Breaking

Danske Bank Catat Euro Melonjak terhadap Dolar AS akibat Buyback AS

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 21 Agustus 2026
Danske Bank Catat Euro Melonjak terhadap Dolar AS akibat Buyback AS
Ilustrasi uang EUR/USD (FOTO : NET)

JAKARTA – Tim Riset Danske mencatat bahwa pasangan mata uang EUR/USD mengalami lonjakan setelah Departemen Keuangan AS mendongkrak volume pembelian kembali obligasi Treasury AS bertenor lebih panjang, sehingga meratakan kurva obligasi serta menarik imbal hasil tenor 10 tahun ke bawah puncak pada hari Selasa.

Pergerakan imbal hasil AS tersebut tercatat hanya merembet sebagian ke kawasan Eropa, di mana aktivitas penerbitan perdana dilaporkan masih berjalan aktif.

"EUR/USD melonjak lebih tinggi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan peningkatan volume pembelian kembali obligasi Treasury bertenor lebih panjang dan kurva obligasi merata. Saat ini di 4,64%, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun kini 10 basis poin di bawah puncak pada hari Selasa. Pergerakan imbal hasil AS hanya sebagian merembet ke Eropa, di mana pasar primer dibuka dengan maraknya penerbitan obligasi SSA dan covered bonds," kata Tim Riset Danske sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Di AS, risalah rapat FOMC bulan Juli tidak mengandung kejutan besar. Pandangan mengenai inflasi masih beragam, dengan ‘banyak’ peserta menilai bahwa ‘pengetatan kebijakan kemungkinan akan diperlukan jika inflasi tidak menurun’. 

Sebagian peserta juga mencatat bahwa kondisi keuangan mungkin belum cukup restriktif untuk mengembalikan inflasi ke 2%, sejalan dengan pandangan anggota yang memilih mempertahankan suku bunga tetapi tetap membuka kemungkinan kenaikan di masa depan setelah pertemuan tersebut," ujar pihak Tim Riset Danske sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Di kawasan Euro, data inflasi final mengonfirmasi estimasi awal sebesar 2,9% y/y, dengan inflasi inti di 2,5% y/y. Ukuran inflasi dasar secara umum tidak banyak berubah dan hanya mencatat kenaikan kecil, mengindikasikan bahwa inflasi masih cukup membandel, tetapi tekanan harga tidak meningkat secara signifikan setelah guncangan energi," tutur tim analisis tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Secara terpisah, Indeks Biaya Tenaga Kerja Kuartal II melandai menjadi 3,1% y/y dari 3,2% y/y pada Kuartal I, mengindikasikan bahwa tekanan upah terus mereda dan seharusnya tetap menjadi faktor disinflasi. Oleh karena itu, kami tetap memprakirakan hanya satu kenaikan suku bunga lagi sebesar 25 bp dari ECB," jelas pihak Danske sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Di kawasan euro, ECB mempublikasikan risalah dari pertemuan bulan Juli, di mana suku bunga kebijakan dibiarkan tidak berubah. Kami memprakirakan risalah rapat tersebut akan menunjukkan bias ke arah kenaikan suku bunga pada bulan September, yang juga sudah sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar. Panduan setelah September kemungkinan akan tetap terbatas," pungkas tim riset sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua