Breaking

GBP USD Naik Dua Hari Berturut Turut saat Dolar AS Tertekan Buyback

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 21 Agustus 2026
GBP USD Naik Dua Hari Berturut Turut saat Dolar AS Tertekan Buyback
Ilustrasi bank of england (FOTO : NET)

JAKARTA – Nilai tukar GBP/USD mengalami penguatan seiring intervensi Departemen Keuangan AS dalam membatasi imbal hasil obligasi, yang berujung membebani posisi Dolar AS.

Gesekan geopolitik antara pihak AS dan Iran pun dilaporkan semakin memanas di wilayah Selat Hormuz yang krusial.

Sementara itu, laju inflasi Inggris yang lebih tinggi berada persis sesuai perkiraan, sehingga sedikit menekan ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga lanjutan dari Bank of England.

Pasangan mata uang GBP/USD melanjutkan tren penguatan selama dua hari beruntun dan diperdagangkan pada kisaran 1,3630 sepanjang sesi perdagangan Eropa pada hari Kamis. Pasangan mata uang tersebut merangkak naik imbas Dolar AS (USD) yang menjumpai tantangan akibat keputusan Departemen Keuangan AS untuk menstabilkan pasar obligasi dalam negeri.

Pihak Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana buat meredam lonjakan imbal hasil serta mengatasi kecemasan likuiditas pasar dengan cara menggandakan aksi buyback sekuritas jangka panjang berjangka waktu 10 hingga 30 tahun. 

Intervensi berskala besar ini bertujuan memangkas beban pinjaman jangka panjang sekaligus mendongkrak likuiditas Dolar AS secara menyeluruh di tingkat global, yang pada akhirnya sanggup memberikan tekanan penurunan pada mata uang tersebut di kemudian hari.

Analis dari UBS menegaskan bahwa pergeseran kebijakan Departemen Keuangan AS sejatinya berakar dari dinamika ekonomi serta politik dalam negeri. Pihak bank menilai bahwa tingkat imbal hasil yang kian tinggi berdampak langsung pada krisis keterjangkauan di AS dan pembengkakan biaya layanan utang sehingga menjelma jadi fokus politik, dengan biaya pinjaman yang merangkak naik kian mewarnai agenda kebijakan.

Dalam kondisi ini, UBS memandang deretan langkah terkini sebagai upaya untuk meredam konsekuensi bagi pasar obligasi dari kebijakan lain seperti dinamika perang Teluk serta penetapan tarif, yang mengindikasikan bahwa para pejabat kini bergerak demi menekan dampak lanjutan dari keputusan sebelumnya pada kurva jangka panjang.

Kendati demikian, potensi penguatan GBP/USD berisiko tertahan sebab mata uang Greenback berpeluang mendapatkan amunisi safe-haven dari perselisihan geopolitik di Selat Hormuz, tempat ketegangan antara AS dan Iran kian meruncing. Walau mantan Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa arus lalu lintas minyak masih berjalan dan membuka ruang negosiasi dengan Teheran, peningkatakan kecenderungan menghindari risiko tetap memberi angin segar bagi mata uang AS.

Para pelaku pasar mencermati secara hati-hati rilis data ekonomi paling gres dari Inggris (UK), sembari menyeimbangkan indikator inflasi yang membandel dengan kondisi pasar tenaga kerja yang kian mendingin. Laju pertumbuhan harga konsumen tahunan terangkat naik menuju 2,9% pada bulan Juli dari angka 2,6% pada bulan Juni, yang tercatat tepat sesuai estimasi konsensus.

Di samping itu, tingkat inflasi inti yang mengabaikan pergerakan barang volatil terpantau bertahan stabil pada level 2,6%.

Analis dari Danske Bank turut memaparkan bahwa tekanan harga di Inggris memperlihatkan kenaikan pada bulan Juli, dengan IHK utama naik ke angka 2,9% y/y dari posisi sebelumnya 2,6%, yang utamanya terdorong oleh lonjakan 13% pada batas harga energi Ofgem per 1 Juli. Mereka menekankan bahwa capaian tersebut secara umum selaras dengan ekspektasi, yang makin mempertegas besarnya andil biaya energi yang diatur dalam lonjakan inflasi paling baru.

Menyusul perilisan data tersebut, para pelaku pasar secara perlahan memangkas ekspektasi mereka atas kenaikan suku bunga Bank of England berikutnya pada akhir tahun ini, sembari mempertimbangkan tekanan inti yang stabil di tengah proyeksi ekonomi yang lebih luas.

Pada grafik harian, pasangan GBP/USD diperdagangkan di tingkat 1,3630, meneruskan kenaikannya di atas Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari dan 50 hari, yang menopang bias bullish jangka pendek secara jelas. 

Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di level 69,8 atau persis di bawah area jenuh beli, yang mencerminkan dorongan kenaikan yang kuat walau berpotensi terlampau jauh, sedangkan Indeks Sentimen Fed FXS pada kisaran 134,61 memberi sinyal kondisi makro yang masih kondusif bagi pasangan mata uang ini.

Sisi bawah memperlihatkan support awal muncul pada EMA sembilan hari di kisaran 1,3546, dengan area penyangga yang lebih dalam di EMA 50 hari di sekitar 1,3437, lokasi di mana para pembeli diproyeksikan bakal mempertahankan tren kenaikan yang lebih luas. 

Selama GBP/USD mampu bertahan di atas tumpuan Moving Average ini, proyeksi teknis tetap dinilai positif, meskipun tingginya angka RSI mengingatkan bahwa setiap lonjakan baru berisiko diikuti konsolidasi atau koreksi ringan menuju area permintaan yang mendasarinya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua