Breaking

Dolar AS Melemah Imbas Langkah Treasury Naikkan Pembelian Obligasi

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 21 Agustus 2026
Dolar AS Melemah Imbas Langkah Treasury Naikkan Pembelian Obligasi
Ilustrasi usd (FOTO : NET)

JAKARTA – Mata uang Dolar AS (USD) berada di bawah tekanan jual yang kuat pada sesi perdagangan Amerika pada hari Rabu seusai Departemen Keuangan secara mendadak mengumumkan rencana pelipatgandaan ukuran operasi pembelian kembali utang jangka panjang guna menopang likuiditas pasar.

Pada Kamis pagi di Eropa, para pelaku pasar mulai mencerna imbas perkembangan tersebut sembari menantikan perilisan data makroekonomi kelas menengah dari AS, mencakup Klaim Pengangguran Awal mingguan serta Survei Manufaktur The Fed Philadelphia periode Agustus.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun, yang sempat melambung ke level tertingginya dalam 19 tahun pada hari Selasa, langsung terjun bebas dan merosot mendekati 2% pada hari Rabu, sedangkan imbal hasil acuan tenor 10 tahun ikut meluncur 1,4%.

Sebagai imbasnya, Indeks USD tergerus 0,9% dan menyentuh titik terendahnya dalam hampir tiga bulan di bawah level 99,00, sebelum akhirnya bertahan stabil pada kisaran 98,80 pada Kamis pagi waktu Eropa.

Sementara itu, risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) edisi Juli pada akhir hari Rabu memperlihatkan banyak peserta menilai suku bunga yang lebih tinggi berpotensi tetap diperlukan jika laju inflasi tak kunjung turun.

Meski begitu, beberapa peserta memilih untuk tidak menaikkan suku bunga secara terburu-buru dengan alasan dapat menghindar dari perlunya kenaikan lebih lanjut di kemudian hari.

George Saravelos dari Deutsche Bank menilai bahwa inisiatif pembelian kembali paling baru ini setara dengan kebijakan represi keuangan bentuk lunak demi menahan imbal hasil AS jangka panjang, serta melayangkan peringatan bahwa langkah tersebut bakal berdampak negatif bagi Dolar.

Menurut argumen Deutsche Bank, seandainya harga pasar obligasi Pemerintah AS tidak diizinkan menyesuaikan lebih rendah, maka nilai valuta asing dari obligasi Pemerintah AS yang dipegang investor asing terpaksa menyesuaikan diri lewat pelemahan Dolar.

Tim ahli strategi BNY mengakui adanya deretan katalis negatif bagi Dolar yang kian panjang, mulai dari dinamika FOMC Juli, munculnya kecemasan seputar kebijakan fiskal AS, hingga dukungan dari suku bunga riil.

Namun, mereka mengingatkan rekam jejak sejarah yang menyarankan agar tidak mengambil posisi jual terhadap Greenback secara agresif sebagai lindung nilai portofolio, lantaran USD tetap menjadi benteng perlindungan paling diandalkan saat terjadi aksi jual obligasi dan ekuitas di tengah guncangan inflasi pasokan.

Pada akhir hari Rabu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bakal meluncurkan operasi ekonomi yang menghancurkan terhadap Iran serta mengancam negara mana pun yang mendukung Iran akan berhadapan dengan pembalasan finansial yang berat.

Merespons gertakan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut keputusan Trump hanya akan mendatangkan kekalahan lanjutan bagi pihak Washington.

Di sisi lain, harga Minyak Mentah terpantau bergerak stabil pada awal perdagangan hari Kamis, dengan varian West Texas Intermediate (WTI) bertransaksi terbatas di kisaran US$84,50 pada pagi hari waktu Eropa.

Pasangan mata uang EUR/USD melonjak melebihi 0,8% pada hari Rabu dan melanjutkan tren penguatan sepanjang sesi perdagangan Asia pada hari Kamis hingga menggapai puncak baru tiga bulan, sebelum akhirnya memasuki fase konsolidasi di bawah 1,1700.

Selanjutnya, GBP/USD bertengger pada tingkat tertingginya sejak awal Mei di atas posisi 1,3600 pada awal hari Kamis menyusul lonjakan signifikan pada hari Rabu.

Pasangan USD/JPY sempat merosot hampir 1% pada perdagangan hari Rabu sebelum kemudian mencetak rebound tipis pada awal Kamis untuk bertengger sedikit di bawah 158,50, atau terangkat 0,15% secara harian.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua