Analis Ungkap Level Penting Bitcoin Jelang FOMC hingga Akhir 2026
JAKARTA – Pasar aset kripto kini berada dalam masa penuh perhatian menjelang keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pertengahan September 2026.
Para investor mulai mencermati berbagai indikator ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi menentukan pergerakan Bitcoin, Ethereum, serta aset kripto lainnya hingga akhir tahun.
Penurunan harga yang terjadi sepanjang pekan ini dianggap masih bersifat jangka pendek seiring meningkatnya kehati-hatian para investor.
Kondisi tersebut belum memperlihatkan indikasi kuat bahwa pasar kripto sedang memasuki tren bearish jangka panjang.
Sentimen pasar salah satunya terpengaruh oleh data ketenagakerjaan AS yang mencatat penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus serta kenaikan Indeks Harga Produsen (PPI) sebesar 0,4%.
Data ekonomi yang relatif kokoh tersebut turut menggeser ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
CME FedWatch mencatat peluang sebesar 58,4% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%–4,00%.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai tekanan terhadap harga aset kripto saat ini belum disertai dengan penarikan dana institusional secara besar-besaran.
Hal tersebut terlihat dari arus masuk (inflow) ke produk exchange-traded fund (ETF) spot Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat yang masih tergolong stabil.
"Tren pelemahan saat ini kemungkinan besar bersifat sementara dan sangat tergantung pada hasil FOMC, bukan sinyal awal dari tren bearish jangka panjang," ujar Yudhono sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurutnya, pasar kripto berpeluang kembali menguat apabila bank sentral AS memberikan sinyal pelonggaran kebijakan (dovish) atau memilih mempertahankan suku bunga.
Kondisi ini dapat membuka peluang pemulihan (rebound) harga aset kripto menjelang akhir 2026.
Selain Bitcoin dan Ethereum, sejumlah altcoin dinilai memiliki pendorong masing-masing yang berpotensi memikat perhatian investor.
Yudhono menyebut Zcash (ZEC), misalnya, berpotensi memperoleh sentimen positif setelah adanya pencatatan produk investasi di NYSE Arca.
Sementara itu, Uniswap (UNI) memperoleh dukungan dari perkembangan ekosistem decentralized finance (DeFi).
Adapun Solana (SOL) dan Hedera (HBAR) dinilai memiliki pendorong dari semakin berkembangnya adopsi jaringan oleh korporasi.
Kendati demikian, pergerakan pasar kripto masih memperlihatkan dominasi Bitcoin.
Pangsa pasar Bitcoin masih bertahan di level 59%, sedangkan Indeks Altcoin Season berada di angka 40-an.
Kondisi tersebut menandakan bahwa minat investor masih cenderung berpusat pada aset kripto utama ketimbang altcoin.
"Di tengah volatilitas seperti sekarang, investor disarankan tidak terlalu reaktif terhadap pergerakan harga harian, melainkan fokus pada gambaran besar seperti arah kebijakan The Fed, data ekonomi, dan arus dana institusional lewat ETF," tutur Yudhono sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk mengendalikan risiko di tengah volatilitas pasar, strategi dollar-cost averaging (DCA) serta penerapan disiplin stop loss dinilai bisa menjadi opsi bagi investor.
Memasuki akhir 2026, Yudhono menyoroti level US$80.000–US$90.000 sebagai area penting yang perlu diperhatikan pada pergerakan harga Bitcoin.
Bila Bitcoin sanggup menembus sekaligus mempertahankan level tersebut, harga aset kripto terbesar di dunia itu berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran US$100.000 hingga US$120.000 dalam skenario optimistis.
Sebaliknya, risiko koreksi masih terbuka jika level support US$67.000 tertembus.
Dalam kondisi itu, harga Bitcoin diperkirakan dapat mencari pijakan berikutnya pada kisaran US$60.000–US$62.000.
Sementara itu, Ethereum diproyeksikan bergerak dalam rentang US$2.200–US$3.200 pada skenario moderat hingga akhir 2026.
Ethereum masih mempunyai peluang untuk mendekati level US$4.000 bilamana arus masuk dana ke produk ETF terus memperlihatkan penguatan.
Adapun dalam skenario konservatif, batas bawah pergerakan Ethereum diperkirakan berada di rentang US$2.000–US$3.000 per ETH.