Breaking

Morgan Stanley Pangkas Rating Novo Nordisk, Target 250 Krone

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 11 September 2026
Morgan Stanley Pangkas Rating Novo Nordisk, Target 250 Krone
Ilustrasi Morgan Stanley menurunkan peringkat Novo Nordisk menjadi Underweight dari sebelumnya Equal-weight. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Morgan Stanley menurunkan peringkat Novo Nordisk menjadi Underweight dari sebelumnya Equal-weight. Keputusan tersebut didasari prospek pertumbuhan jangka menengah yang dinilai lesu serta kekhawatiran terhadap ancaman tebing paten semaglutide, bahan utama dalam produk Ozempic dan Wegovy.

Analis Morgan Stanley yang dipimpin Thibault Boutherin menilai valuasi Novo Nordisk "tidak sepenuhnya" mencerminkan prospek pertumbuhan jangka menengah yang lemah serta "implikasi dari tebing paten semaglutide terhadap nilai terminal Novo," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Morgan Stanley tetap mempertahankan target harga saham Novo Nordisk di 250 krone Denmark. Target tersebut mengindikasikan potensi penurunan lebih dari 10% dibandingkan harga penutupan terakhir.

Saham Novo Nordisk turun 2,6% pada awal perdagangan di Kopenhagen.

Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan pendapatan dan EBIT sebesar 2-3% pada 2027. Proyeksi tersebut secara umum sejalan dengan konsensus. Sementara itu, CAGR pendapatan dan EBIT diperkirakan mencapai 4% pada periode 2027 hingga 2030.

Angka tersebut berada di bawah proyeksi Morgan Stanley untuk sektor farmasi Eropa secara keseluruhan, yakni pertumbuhan pendapatan sebesar 4% dan EBIT sebesar 7%.

Semaglutide diperkirakan menyumbang 75% dari penjualan Novo Nordisk pada 2026. Produk tersebut akan menghadapi tebing paten besar pada awal hingga pertengahan 2030-an di Eropa dan Amerika Serikat.

Morgan Stanley memperkirakan semaglutide masih berkontribusi sebesar 59% terhadap penjualan Novo Nordisk pada 2031, ketika dampak hilangnya eksklusivitas (LOE) mulai terasa.

Bank tersebut juga memproyeksikan waralaba obat obesitas oral Novo Nordisk menghasilkan penjualan sebesar $10 miliar pada 2031. Namun, Morgan Stanley menilai angka tersebut "tidak akan cukup untuk mengimbangi tekanan harga dan persaingan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan survei eksklusif terhadap 200 dokter layanan primer, Morgan Stanley melihat adopsi obat GLP-1 terus meningkat untuk pengobatan diabetes dan obesitas. Meski demikian, survei tersebut juga menunjukkan potensi kehilangan pangsa pasar Novo Nordisk dalam 18 bulan mendatang kepada produk Eli Lilly yang sudah tersedia serta retatrutide yang diperkirakan hadir pada 2027.

Dari sisi valuasi, analis mencatat Novo Nordisk diperdagangkan pada 12,5 kali estimasi laba 2027. Angka tersebut merupakan diskon 7% terhadap perusahaan farmasi besar Eropa, tetapi sekaligus menjadi premi 35% dibandingkan perusahaan global yang menghadapi persoalan hilangnya eksklusivitas serupa, seperti Sanofi dan GSK.

"Premi tersebut lebih menonjol dibandingkan GSK (10x) dan Sanofi (8x)," tulis para analis, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tim Morgan Stanley juga melihat "ruang terbatas untuk pengumuman besar" dalam acara capital markets day Novo Nordisk pada 21 September, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Meski demikian, manajemen diperkirakan kembali menegaskan visinya terhadap pasar obesitas oral dan memberikan pembaruan mengenai sejumlah prioritas pengembangan bisnis, termasuk MASH dan penyakit ginjal kronis.

Adapun risiko kenaikan saham dapat muncul apabila pengobatan obesitas oral mampu merebut pangsa pasien yang lebih besar dari perkiraan. Potensi tersebut juga akan semakin kuat jika produk tersebut terbukti lebih mampu bertahan menghadapi tekanan kompetitif dan obat generik dibandingkan proyeksi saat ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua