Breaking

Harga Kopi Dunia Mendidih, Indonesia dan 9 Negara Berpeluang Cuan

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 03 Agustus 2026
Harga Kopi Dunia Mendidih, Indonesia dan 9 Negara Berpeluang Cuan
Ilustrasi Harga Kopi Dunia Mendidih (FOTO: NET)

JAKARTA – Harga sejumlah komoditas pertanian kembali menanjak saat memasuki Agustus 2026. Beras mencatat kenaikan bulanan paling tinggi, kemudian disusul oleh oat, kopi, keju, serta kakao.

Kopi menjadi komoditas paling menarik perhatian karena harganya naik di tengah ketatnya pasokan, cuaca tak menentu, dan ancaman El Niño.

Berdasarkan data Trading Economics, harga arabika bertahan di kisaran US$3,34 per pon atau sekitar US$7,36 per kg (setara Rp 132.480 per kg dengan kurs US$1= Rp 18.000). Angka tersebut masih berada dekat dengan level tertinggi sejak Januari 2026.

Pergerakan harga harian juga memperlihatkan tren kenaikan serupa.

Kontrak kopi arabika (KCc1) ditutup pada level 332,1 sen AS per pon pada 31 Juli 2026, naik sekitar 7,3 persen dari posisi 23 Juli di level 309,4 sen AS per pon menurut Refinitiv. Volatilitas pasar yang masih tinggi membuat harga sempat menyentuh 339,4 sen AS per pon pada 28 Juli sebelum akhirnya terkoreksi tipis menjelang akhir pekan.

Kondisi tersebut hadir pada momen yang tepat bagi Indonesia. Negara ini menempati posisi empat besar produsen kopi dunia saat ini.

Kenaikan harga kopi memiliki dinamika berbeda dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Pasar lebih banyak merespons gangguan pasokan dari negara produsen utama daripada terdorong oleh lonjakan permintaan semata.

Proses panen berjalan lebih lambat akibat hujan deras yang terus menerus mengguyur wilayah Minas Gerais sebagai penghasil kopi terbesar Brasil. Ketersediaan fisik di pasar global pun kian ketat seiring stok kopi arabika bersertifikat di bursa ICE yang menyusut ke level terendah dalam dua setengah tahun terakhir.

Premi risiko utama di pasar kopi masih didominasi oleh faktor cuaca karena pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi El Niño yang dapat mengganggu pembungaan tanaman.

Namun, potensi tekanan penurunan harga sebenarnya mulai membayangi. USDA memperkirakan produksi kopi global musim 2026/2027 bakal mencatatkan rekor tertinggi berkat melimpahnya panen arabika Brasil, sementara aliran ekspor robusta Vietnam terus berjalan meredakan keketatan pasokan.

FAO mencatat dalam laporan terbarunya bahwa perubahan kondisi pasokan dan permintaan menyumbang lebih dari 90 persen pergerakan harga kopi. Faktor makro seperti nilai tukar atau suku bunga hanya memberikan pengaruh relatif kecil dalam jangka pendek, sedangkan gangguan logistik, cuaca ekstrem, biaya produksi, serta penyakit tanaman menjadi penggerak utamanya.

Peluang tambahan penerimaan ekspor bagi Indonesia tetap terbuka berkat tingginya harga pasar meskipun volume pengiriman belum pulih sepenuhnya.

"ekspor kopi robusta Sumatra mencapai 29.275 ton pada Juni 2026. Angka tersebut melonjak 62% dibanding Mei yang hanya 18.072 ton. Namun dibanding Juni tahun lalu, volumenya masih turun 4,8%." sebagaimana dilansir dari berita sumber

Hal ini mengindikasikan nilai ekspor berpeluang terangkat oleh lonjakan harga di tengah tantangan produksi yang masih berjalan.

Peran Indonesia di ranah global tergolong cukup signifikan. Laporan USDA yang diolah Visual Capitalist menempatkan Indonesia pada urutan keempat produsen kopi terbesar dunia untuk musim 2025/2026.

Brasil mendominasi pasar global melalui produksi 63 juta karung atau sekitar 35 persen pasokan dunia, yang bahkan melampaui gabungan produksi Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Vietnam berada di peringkat kedua lewat komoditas robusta, sedangkan selisih produksi antara Kolombia, Indonesia, dan Ethiopia berkisar satu juta karung saja.

Negara-negara produsen utama menjadi pihak yang paling diuntungkan selama harga internasional bertahan di level tinggi.

Brasil memperoleh manfaat paling besar sebagai penguasa sepertiga produksi dunia, sementara Vietnam turut menikmati kenaikan nilai ekspor robusta. Indonesia berada di kelompok yang sama dan berpeluang memperluas kenaikan penerimaan ekspor jika hasil panen sanggup ditingkatkan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua