Breaking

Inflasi Jepang Melambat ke 1,7 Persen Jelang Putusan Suku Bunga BOJ

RE
Jumat, 18 September 2026
Inflasi Jepang Melambat ke 1,7 Persen Jelang Putusan Suku Bunga BOJ

TEROPONGBISNIS.ID — Inflasi inti Jepang melambat ke 1,7 persen pada Agustus, turun dari 1,8 persen bulan sebelumnya, menurut data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang. Perlambatan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Bank of Japan (BOJ) mengumumkan keputusan suku bunga. Bagi pasar global, arah kebijakan BOJ menjadi sinyal penting yang bisa memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Angka inflasi inti Jepang yang tidak memasukkan harga pangan segar itu meleset dari perkiraan ekonom. Sebelumnya, para ekonom memperkirakan tingkat inflasi akan tetap tidak berubah di level 1,8 persen.

Penurunan ini menjadi yang pertama dalam empat bulan terakhir. Faktor utamanya adalah dampak subsidi pemerintah yang menekan harga di sejumlah komponen.

Angka Inflasi Inti dan Inflasi Mendasar

Indeks harga konsumen yang tidak mencakup harga pangan segar dan energi, yang menjadi salah satu indikator utama BOJ untuk mengukur inflasi mendasar, tercatat naik 1,9 persen. Angka yang sama juga muncul pada IHK secara keseluruhan.

Artinya, tekanan harga di luar pangan dan energi masih bertahan di level yang sama. Perlambatan di angka utama lebih banyak dipengaruhi faktor subsidi ketimbang pelemahan permintaan.

Mengapa BOJ Diperkirakan Tetap Mengetatkan Kebijakan

Meski data inflasi melambat, angka itu dinilai tidak akan mengubah pertimbangan BOJ dalam menentukan kebijakan suku bunga. Ekspektasi pasar sudah terbentuk bahwa tren inflasi akan kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

BOJ selama ini menggunakan indikator inflasi mendasar sebagai acuan utama. Selama angka itu masih mendekati target, bank sentral Jepang punya ruang untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.

Dampak ke Pasar Keuangan dan Indonesia

Keputusan suku bunga BOJ berdampak langsung ke pasar obligasi global. Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi menarik aliran modal kembali ke yen, yang bisa menekan mata uang negara berkembang.

Bagi investor Indonesia, pergerakan BOJ perlu dicermati karena memengaruhi posisi yen terhadap dolar AS. Yen yang menguat biasanya diikuti pengurangan posisi carry trade, yang bisa berdampak ke pasar saham dan obligasi domestik.

Rupiah dan IHSG kerap terimbas sentimen global semacam ini. Namun, dampaknya bergantung pada seberapa besar kenaikan suku bunga yang benar-benar diumumkan BOJ.

Data inflasi Agustus ini hanya salah satu masukan. BOJ masih akan menimbang data upah dan konsumsi rumah tangga sebelum memutuskan arah kebijakan berikutnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua