Breaking

IHSG Hadapi Tekanan The Fed, Cermati Support 6.371

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 17 September 2026
IHSG Hadapi Tekanan The Fed, Cermati Support 6.371
Ilustrasi aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (17/9/2026) setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Keputusan tersebut menjadi tambahan sentimen negatif bagi pasar saham Indonesia yang secara teknikal masih berada dalam fase koreksi.

Pada perdagangan Rabu (16/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,38% ke level 6.436,85. Padahal, indeks sempat menguat hingga 6.535,46 sebelum akhirnya ditutup di level terendah harian. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan jual semakin kuat memasuki paruh kedua perdagangan.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan kenaikan suku bunga The Fed menjadi perhatian karena pasar global kembali menghadapi prospek kebijakan moneter yang lebih ketat.

Kenaikan 25 basis poin tersebut membawa Fed Funds Rate ke kisaran 3,75% hingga 4%. Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko melalui penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan potensi keluarnya dana asing dari pasar saham negara berkembang.

“Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata kenaikan suku bunga The Fed, karena sebagian keputusan tersebut kemungkinan sudah diantisipasi pasar. Yang lebih penting adalah pesan The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut dia, ketika inflasi masih menjadi perhatian dan ruang pelonggaran moneter belum sepenuhnya terbuka, investor cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana pada aset berisiko. Kondisi tersebut membuat IHSG lebih rentan terhadap aksi profit taking, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Tekanan juga muncul ketika harga minyak masih berada di level tinggi sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Secara teknikal, struktur IHSG juga belum memperlihatkan tanda pembalikan yang kuat. Pelemahan pada Rabu menjadi penurunan selama enam hari perdagangan berturut-turut.

Tekanan pasar juga tercermin dari breadth perdagangan. Sebanyak 439 saham melemah, sementara hanya 201 saham menguat. Dari 11 sektor IDX-IC, sebanyak sembilan sektor berada di zona merah. Sektor infrastruktur turun 1,39%, teknologi melemah 1,13%, sedangkan barang konsumen non-primer terkoreksi 1,12%.

Menariknya, pelemahan IHSG terjadi ketika sejumlah bursa utama Asia justru bergerak positif. Nikkei naik 0,69%, Hang Seng menguat 0,19% dan Shanghai Composite bertambah 0,71%.

Hendra menilai kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan masih rapuhnya sentimen domestik. Ketika saham-saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan, penguatan pada sebagian saham lapis kedua belum cukup untuk menopang pergerakan indeks.

Selain sentimen The Fed, perkembangan MSCI juga masih menjadi perhatian pasar. Pengumuman MSCI pada 16 September terkait konsultasi perubahan metodologi capped indexes bukan merupakan pengumuman perubahan komposisi saham Indonesia.

Konsultasi tersebut masih berlangsung hingga 30 September 2026. Sementara itu, hasil dan jadwal implementasinya akan diumumkan paling lambat 30 Oktober 2026. Dengan demikian, pengumuman tersebut tidak serta-merta berarti ada saham Indonesia yang otomatis dikeluarkan atau dikurangi bobotnya.

Meski demikian, sensitivitas investor terhadap MSCI saat ini masih tinggi. Perubahan metodologi, mekanisme indeks maupun potensi dampaknya terhadap rebalancing dan arus dana pasif dapat dengan cepat diterjemahkan pasar menjadi sentimen.

Karena itu, perkembangan MSCI tetap perlu dicermati, terutama ketika kepercayaan terhadap pasar domestik belum sepenuhnya pulih.

Untuk perdagangan Kamis, level 6.371 menjadi garis pertahanan penting bagi IHSG. Level tersebut sebelumnya sempat disentuh pada 14 September 2026 sebelum indeks rebound dan ditutup di 6.534,69.

Jika tekanan akibat sentimen The Fed kembali membawa IHSG mendekati 6.371 tetapi mampu dipertahankan oleh buyer, peluang technical rebound masih terbuka.

Sebaliknya, apabila level 6.371 ditembus dengan tekanan jual besar dan diikuti pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar, risiko koreksi lanjutan akan semakin meningkat. Kondisi tersebut juga berpotensi membuka ruang bagi terbentuknya level terendah baru karena support yang sebelumnya menjadi pijakan buyer kehilangan kekuatannya.

Sementara itu, area 6.552 menjadi resistance sekaligus level konfirmasi penting. IHSG sebelumnya sempat menyentuh 6.552,79 pada 11 September sebelum kembali melemah. Kawasan tersebut menjadi zona supply yang perlu diperhatikan.

“Selama indeks belum mampu menembus dan bertahan di atas 6.552, kenaikan masih lebih tepat dibaca sebagai technical rebound daripada perubahan tren,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan demikian, perdagangan Kamis menjadi ujian baru bagi IHSG setelah indeks mengalami koreksi selama enam hari berturut-turut. Pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dolar AS, rupiah, harga minyak dan arus dana asing akan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor.

Dari dalam negeri, kemampuan saham-saham berkapitalisasi besar menahan tekanan juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah IHSG.

Untuk sementara, level 6.371 menjadi support penting yang perlu dipertahankan, sedangkan 6.552 menjadi level resistance yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi penguatan lebih lanjut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua