Rupiah Menguat Tinggalkan Level Rp 17.997 per Dolar AS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) meneruskan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Senin, 3 Agustus 2026.
Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah menguat 25 poin (0,14%) ke posisi Rp 17.997 per dolar AS dari sebelumnya Rp 18.022 per dolar AS.
Penguatan rupiah kembali terjadi seiring melandainya harga minyak dunia setelah ketegangan di Timur Tengah mereda.
Kondisi tersebut ditandai oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer berskala besar ke Iran usai Teheran dan sejumlah negara Timur Tengah meminta waktu negosiasi.
"Saat iim pasar fokus terhadap prospek The Fed dan data ketenagakerjaan AS, meskipun mencatat kenaikan pada hari Senin, para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat Federal Reserve yang sebelumnya menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada hari Jumat bahwa inflasi masih terlalu tinggi," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Senin (3/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ibrahim menyebutkan bahwa perhatian pelaku pasar tertuju pada deretan data tenaga kerja AS yang dirilis pekan ini.
Data yang dinanti mencakup lowongan kerja JOLTS, laporan penggajian swasta ADP, klaim pengangguran mingguan, hingga nonfarm payrolls guna membaca arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya.
Dari dalam negeri, rupiah terdorong oleh ekspansi aktivitas manufaktur Indonesia pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi di bulan sebelumnya.
Laporan S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari posisi 46,9 pada Juni 2026.
Selain itu, Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (MtM), setelah pada Mei 2026 mencatat inflasi 0,44%.
Adapun secara tahunan, inflasi Indonesia pada Juli 2026 berada di tingkat 2,88%.