Breaking

Rupiah Tertekan pada Akhir Agustus 2026 Akibat Dolar AS dan Geopolitik

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 01 September 2026
Rupiah Tertekan pada Akhir Agustus 2026 Akibat Dolar AS dan Geopolitik
Ilustrasi nilai tukar (FOTO : NET)

JAKARTA – Pergerakan mata uang Garuda kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan penutup Agustus 2026. Hal ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak mentah dunia, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.

Mata uang rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.722 per dolar AS pada Senin (31/8/2026). Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,15% dari posisi akhir pekan sebelumnya di level Rp 17.693 per dolar AS.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada pada posisi Rp 17.746 per dolar AS. Posisi tersebut tercatat melemah 0,24% dibandingkan sesi sebelumnya yang berada di level Rp 17.703 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan, pelemahan mata uang domestik terjadi seiring menguatnya dolar AS pascapernyataan hawkish dari Kepala The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh pidato hawkish Kepala The Fed Warsh. Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik ikut membebani," ujar Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lukman menilai sentimen dari luar negeri tersebut menjadi beban bagi nilai tukar rupiah pada awal pekan, setelah sempat menguat pada akhir pekan lalu.

Lonjakan harga minyak mentah turut menjadi perhatian serius karena berpotensi memperbesar tekanan, khususnya di tengah tingginya kebutuhan impor energi.

Fokus para investor diproyeksikan bakal beralih ke sejumlah rilis data ekonomi dalam negeri pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Lukman menyampaikan bahwa para pelaku pasar sedang mengantisipasi pengumuman data inflasi serta perdagangan Indonesia.

Data Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode Agustus 2026 rencananya akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa, 1 September 2026.

Laporan tersebut berpeluang menjadi pendorong pergerakan rupiah jangka pendek sebab dapat mencerminkan gambaran fundamental ekonomi nasional sekaligus arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Oleh karena itu, ia memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan Selasa (1/9) akan bergerak dalam kisaran Rp 17.650-Rp 17.800 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua