Breaking

Syailendra Capital Proyeksi Harga Emas Masih Volatil hingga Akhir 2026

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 01 September 2026
Syailendra Capital Proyeksi Harga Emas Masih Volatil hingga Akhir 2026
Ilustrasi Emas (FOTO : NET)

JAKARTA – Pergerakan harga emas diperkirakan masih akan mengalami volatilitas hingga penghujung 2026. Salah satu pemicu utama dinamika harga logam mulia ini yaitu arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Sinyal kuat untuk kembali masuk ke tren penguatan dinilai belum terlihat pada harga emas dalam jangka pendek.

“Dalam kurun waktu pendek, mungkin sekitar 3 sampai 6 bulan, harga emas either cenderungnya sideways atau koreksi short-term saja,” ujar Syanne, di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Koreksi harga emas sempat menyentuh angka 26 persen pada kurun waktu Januari hingga Juni 2026. Penurunan tersebut tercatat sebagai yang paling dalam selama satu dekade terakhir.

Sejumlah pemicu melandasi pelemahan harga emas kala itu, mulai dari penyesuaian regulasi leverage, aksi profit taking oleh investor, hingga dinamika geopolitik.

Melihat situasi tersebut, kepastian mengenai kapan harga emas akan memulai tren kenaikan baru masih belum dapat diprediksi.

Meskipun prospek jangka pendek masih membayangi, terdapat dorongan struktural yang sanggup menjaga penyerapan pasar emas untuk jangka panjang. Pembelian logam mulia oleh bank sentral menjadi salah satu pendorong utamanya.

Bank sentral saat ini ditengarai memakai momentum penurunan harga guna memperbesar pasokan cadangan mereka melalui strategi buy the dip.

“Bank Sentral sekarang itu lumayan action-nya jadi kayak dip buyers gitu. Every single correction yang terjadi di emas mereka akan memanfaatkan untuk membeli emas dan meningkatkan cadangan emasnya,” bebernya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah akumulasi oleh bank sentral tersebut dipercaya mampu menjadi penahan alami permintaan saat harga emas tengah merosot.

Proyeksi dari J.P. Morgan sebelumnya menyebutkan harga emas dunia berpotensi menyentuh 6.000 dolar AS per ons pada kuartal IV 2026 dan menanjak ke level 6.300 dolar AS per ons pada akhir 2027.

Penguatan cadangan emas Tiongkok serta ancaman inflasi dan risiko geopolitik global turut memperkuat prospek positif harga emas dalam jangka panjang.

Kendati proyeksi jangka panjang tampak menjanjikan, potensi terjadinya koreksi harga tetap perlu diantisipasi. Tingginya volatilitas harga emas terlihat jelas sepanjang perjalanan pasar pada 2026.

Penurunan tajam melebihi 10 persen sempat melanda pada Maret 2026. Walau demikian, sebagian analis justru menilai penurunan tersebut sebagai momentum titik masuk yang tepat bagi para investor baru.

Para investor pun diimbau untuk selalu cermat mengamati pergerakan harga serta tidak semata-mata mengejar imbal hasil jangka pendek. Pemantauan terhadap dinamika pasar secara konsisten amat diperlukan guna menentukan langkah investasi yang tepat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua