Regulasi Komisi Ojol dan Floor Price Terbaru, Morgan Stanley Borong Saham GoTo
TEROPONGBISNIS.ID — Keterbukaan Informasi pada 26 Agustus 2026 mencatat Morgan Stanley kini memegang hampir 59,4 miliar unit saham GoTo. Jumlah itu setara dengan hampir 5,2% dari total saham beredar, dengan harga akuisisi Rp23 per saham.
Aksi borong itu terjadi saat saham GoTo bertahan di level Rp50 selama lebih dari tiga bulan. Tekanan terhadap saham perusahaan yang menaungi Gojek dan GoPay ini berlapis: aturan komisi ojol yang dipangkas dan rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus ketentuan harga terendah yang dapat diperdagangkan.
Skema Komisi Baru dan Dampaknya ke Margin Gojek
Potongan komisi untuk layanan angkutan roda dua resmi turun dari 20% menjadi 8% dan berlaku sejak 1 Juli 2026. Untuk layanan pengantaran makanan dan barang, pemerintah masih menyusun kerangka aturan melalui Peraturan Presiden maupun aturan teknis Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan pemerintah mencari titik keseimbangan antara kepentingan mitra pengemudi dan keberlanjutan platform.
"Kita coba pastikan bahwa semua proses itu berlangsung secara fair, sehingga pengemudi mendapatkan haknya dengan cukup fair dan juga platform bisa mendapatkan margin yang pantas sehingga mereka juga bisa sustain," ujar Nezar.
Hapusnya Floor Price: Sakit di Awal, Sehat Setelahnya
Rencana BEI menghapus aturan harga terendah Rp50 untuk semua papan pencatatan menjadi ujian lain bagi GoTo. Harga saham berpotensi jatuh ke level terendahnya di Rp1, sebuah skenario yang membuat investor khawatir tapi juga membuka ruang transaksi yang selama ini macet.
Christian dari MNC Sekuritas menilai kebijakan itu justru berdampak positif bagi likuiditas saham GoTo. Selama ini, antrean jual lebih banyak daripada beli di level Rp50 sehingga transaksi tidak kunjung match.
"Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GoTo turun ke bawah Rp50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu," ungkapnya.
Christian juga menyoroti masalah technical overhang yang membebani GoTo. Dana pasif yang terdorong keluar akibat eksklusi dari indeks global seperti FTSE dan MSCI selama ini tertahan lantaran tidak bisa menjual di bawah harga Rp50.
"Dengan aturan baru, memungkinkan mereka bisa rebalancing, sehingga harapannya tidak ada lagi masalah overhang seperti ini," tambah Christian.
Fundamental Ekosistem dan Target Profitabilitas
Abdul Aziz dari Kiwoom Sekuritas menilai tekanan jual yang muncul setelah aturan floor price dihapus hanya bersifat temporer. Setelah itu, harga saham akan kembali ditentukan oleh fundamental perusahaan.
"Saya melihat ruang GoTo untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay," ujar Abdul Aziz.
Kepastian regulasi menjadi kunci yang dinanti pasar. Jika regulasi masih memberi ruang bagi platform untuk menentukan pricing dan kualitas layanan, Abdul Aziz optimistis GoTo mencapai target EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp3,2-3,4 triliun untuk 2026.
Perusahaan telah membuktikan model bisnisnya mampu mencetak laba bersih dua kuartal berturut-turut. Pada Januari-Juni 2026, laba bersih GoTo mencapai Rp608 miliar, membalikkan rugi bersih Rp580 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja fintech yang diampu GoPay disebut berkontribusi besar terhadap profitabilitas tersebut, menjadi penyeimbang jika bisnis transportasi dan pengantaran makanan terdampak kebijakan komisi baru.
Investasi mengandung risiko.