Breaking

Risiko Pasokan Terganggu Harga Minyak Berpeluang Tembus 100 Dolar AS

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 21 Agustus 2026
Risiko Pasokan Terganggu Harga Minyak Berpeluang Tembus 100 Dolar AS
Ilustrasi harga minyak (FOTO : NET)

JAKARTA – Banderol harga minyak mentah dunia diproyeksikan masih cenderung bertahan pada level tinggi serta volatil hingga pengujung tahun seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan fisik akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pada Kamis (20/8/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober menguat 35 sen atau 0,38% ke level US$ 91,97 per barel.

Berjalan seirama, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak penyerahan September 2026 merangkak 17 sen menjadi US$ 86,00 per barel. Sementara harga WTI kontrak pengiriman Oktober 2026 yang lebih aktif bertambah 38 sen atau 0,45% ke posisi US$ 84,77 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah belakangan ini tak lagi sekadar disulut oleh sentimen psikologis pasar, melainkan telah mencerminkan gangguan pasokan fisik (supply disruption) yang nyata di lapangan.

Merosotnya arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta tersendatnya kegiatan ekspor minyak dari wilayah Teluk menjadi penyokong utama lonjakan harga energi dunia saat ini.

Biarpun negara produsen besar yang tergabung dalam OPEC+ beserta Amerika Serikat masih menyimpan kapasitas cadangan guna mendongkrak pasokan, fleksibilitas tersebut dinilai tetap terbatas dalam meredam lonjakan harga.

Keterbatasan tersebut muncul lantaran hambatan distribusi pada titik vital seperti Selat Hormuz tidak serta-merta bisa digantikan oleh peningkatan volume produksi dari area lain.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menyebutkan, pergerakan pasar komoditas energi saat ini telah mengalami pergeseran mendasar dibanding fase-fase awal ketegangan geopolitik.

"Saat ini sudah lebih banyak mencerminkan risiko supply disruption yang nyata, bukan hanya faktor psikologis. Di awal konflik, pasar menaikkan harga karena khawatir terhadap kemungkinan gangguan pasokan. Sekarang, gangguan tersebut sudah menjadi kenyataan," kata Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam skenario dasar (base case), Lukman memproyeksikan harga minyak Brent bergerak pada kisaran US$ 85–US$ 100 per barel dan WTI berada di rentang US$ 80–US$ 95 per barel hingga pengujung tahun.

Meski begitu, arah pergerakan harga minyak masih mengantongi kecenderungan menguat (upside bias) yang amat bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Seandainya konflik Iran-AS terus meluas dan memicu penutupan Selat Hormuz dalam kurun waktu yang lebih lama, harga minyak jenis Brent diperkirakan berpeluang melampaui level US$ 100 hingga US$ 110 per barel.

Sebaliknya, bila tercapai kesepakatan damai serta kepastian dibukanya kembali arus pelayaran, geopolitical premium diprediksi bakal luntur dan mengoreksi harga Brent ke kisaran US$ 75–US$ 85 per barel.

"OPEC+, khususnya negara produsen besar seperti Saudi, memiliki spare capacity yang dapat dimobilisasi jika diperlukan, sementara produksi minyak AS yang tinggi juga menjadi penyangga bagi pasokan global. 

Namun, kemampuan tersebut tetap terbatas karena jika gangguan utama berasal dari Selat Hormuz, tambahan produksi dari negara lain tidak serta-merta dapat menggantikan pasokan yang terhambat," jelas Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua