Harga Minyak WTI Melesat Tembus Level Tertinggi Tiga Pekan
JAKARTA – Harga minyak mentah berhasil mencatatkan rekor tertinggi baru dalam tiga pekan di kisaran US$86,00.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan peringatan keras mengenai konsekuensi berat bagi negara mana pun yang terbukti memberikan dukungan kepada pihak Iran.
Di sisi lain, pihak Qatar menilai bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman merupakan langkah pembuka bagi dimulainya kembali negosiasi antara AS dan Iran.
West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi kontrak berjangka di pasar NYMEX, terpantau merangkak naik 2% di kisaran US$86,00 sepanjang sesi perdagangan Eropa pada hari Kamis, sekaligus menyentuh posisi puncak dalam tiga pekan terakhir. Kenaikan harga minyak berlanjut seiring tertahannya pasokan energi global imbas penutupan Selat Hormuz serta Selat Bab el-Mandeb, yang secara gabungan menyumbang 27% bagi pasokan energi dunia.
Aliran pasokan minyak diperkirakan belum akan kembali normal dalam jangka dekat lantaran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melempar peringatan keras melalui sebuah unggahan terkait dampak ekonomi berat bagi negara-negara yang membantu aktivitas perekonomian Iran.
"NEGARA mana pun yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya untuk memberikan jenis bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi Konsekuensi Ekonomi yang SANGAT BESAR. Penyelundupan minyak, jalur swap, transfer tunai, money changer, registri kapal, perusahaan cangkang—semuanya harus berhenti SEKARANG. Anda tahu siapa Anda," tulis Presiden AS Trump sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Langkah mendesak dari AS guna mengisolasi Iran imbas ketiadaan kesepakatan dengan Washington kian memicu kekhawatiran atas penutupan kawasan Hormuz secara berkepanjangan.
Sementara itu, pihak Qatar meyakini kesepakatan antara Iran dan Oman terkait tata kelola Hormuz perlu diprioritaskan sebelum AS dan Iran kembali duduk bersama di meja perundingan.
Pada hari Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menyampaikan, "Pembicaraan Iran–Oman telah menjadi langkah kunci menuju dimulainya kembali proses diplomatik yang lebih luas" sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berdasarkan grafik harian, Minyak AS WTI bergerak pada tingkat US$86,12. Kontrak ini sanggup menjaga tren bullish jangka pendek karena posisi harga tertahan jauh di atas Exponential Moving Average (EMA) 20-hari di kisaran US$81,65, yang memperkokoh struktur pergerakan naik.
Kondisi momentum masih sangat mendukung tanpa menunjukkan tingkat ekstrem, dengan Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari yang bertengger di angka 59,24, mengindikasikan dominasi daya beli yang kuat meski belum menyentuh area jenuh beli.
Pada posisi bawah, area support terdekat berada pada tingkat US$86,12, sedangkan potensi dorongan permintaan yang lebih kuat diproyeksikan hadir di area EMA 20-hari pada US$81,65, yang bertindak sebagai fondasi lonjakan harga belakangan ini.
Selama pergerakan WTI bertahan di atas garis moving average tersebut, fase pullback dinilai sekadar penurunan sementara dalam tren naik yang lebih luas, alih-alih sinyal pembalikan arah yang mendalam.