Harga CPO Melonjak Saham BWPT SIMP dan Emiten Sawit Turut Terapresiasi
JAKARTA – Harga crude palm oil (CPO) melonjak ke level tertinggi sejak Desember 2024 pada perdagangan Kamis (20/8/2026).
Lompatan harga tersebut turut memicu kenaikan saham sejumlah emiten perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Merujuk data BEI pukul 11.40 WIB, saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menjadi salah satu yang melonjak paling tinggi, yakni 16,30 persen ke Rp107 per unit, dengan total transaksi mencapai Rp55,87 miliar.
Lompatan harga juga dialami saham PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) yang melonjak 9,25 persen ke Rp189 per unit, mengekor PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang naik 5,04 persen ke Rp625 per unit. Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) pun ikut menguat 3,78 persen.
Selanjutnya, saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) terangkat 4,04 persen, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) melesat 4,52 persen, dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menguat 3,55 persen.
Di samping itu, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) menguat 2,83 persen, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 1,61 persen, serta PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) terangkat 1,05 persen.
Berdasarkan penilaian BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (20/8), melesatnya harga CPO berpeluang menjadi sentimen positif bagi emiten sawit, khususnya perseroan yang memilki porsi penjualan CPO cukup besar.
Walau begitu, efek positif dari kenaikan harga CPO pada kinerja tiap emiten masih harus dicermati bersama beberapa faktor lain, seperti dinamika produksi, volume penjualan, serta struktur beban operasional.
Harga CPO melesat ke posisi tertinggi dalam durasi kurung waktu 20 bulan.
Lonjakan ini terdorong oleh tereskalasinya permintaan untuk kebutuhan biofuel serta kecemasan atas volume produksi akibat makin kuatnya fenomena El Niño. Indonesia selaku produsen CPO terbesar di dunia juga mulai mengeksekusi kewajiban bauran biodiesel B50.
Aturan tersebut diproyeksikan mendongkrak penyerapan CPO bagi bahan bakar sekaligus menyusutkan pasokan yang dialokasikan untuk kegiatan ekspor.
Di sisi lain, cuaca gersang mulai memicu kekhawatiran atas hasil produksi sawit di kawasan Indonesia dan Malaysia, yang terhitung produsen CPO terbesar di dunia.
Dampak fenomena El Niño dipahami sanggup mendatangkan iklim yang lebih kering ke kawasan Asia Tenggara sehingga berpotensi menekan tingkat produktivitas area perkebunan.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) turut memproyeksikan cadangan minyak sawit dunia bakal menyusut ke titik terendah dalam kurun sembilan tahun pada periode musim 2026-2027, seiring pesatnya permintaan bagi kebutuhan biofuel. Di bursa Malaysia, kontrak berjangka CPO sempat merangkak naik 0,7 persen ke 4.927 ringgit Malaysia per ton pada Kamis (20/8). Patokan tersebut mencatatkan angka intraday tertinggi sejak Desember 2024.
Apresiasi harga minyak nabati ini pun berlangsung di tengah hambatan pasokan minyak bunga matahari asal Rusia dan Ukraina imbas serangkaian serangan di wilayah Laut Hitam.
Situasi ini mendesak para pembeli untuk beralih ke komoditas minyak nabati pengganti, termasuk CPO, guna memenuhi kebutuhan mereka.