Breaking

Saudi Aramco Pertimbangkan Naikkan Harga Minyak Mentah ke Asia

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 29 Juli 2026
Saudi Aramco Pertimbangkan Naikkan Harga Minyak Mentah ke Asia
Ilustrasi Minyak Mentah (FOTO: NET)

JAKARTA – Saudi Aramco sedang mengkaji skema harga baru bagi ekspor minyak mentah tujuan Asia yang diangkut melalui Pelabuhan Sidi Kerir, Mesir. Keputusan ini diambil seiring meningkatnya biaya pengiriman lantaran adanya penyesuaian rute ekspor.

Penyesuaian harga ini kabarnya masih dibahas di internal perusahaan. Tiga sumber yang memahami rencana tersebut menyebutkan bahwa perubahan harga diterapkan usai jalur ekspor dialihkan ke pipa Suez-Mediterranean (Sumed).

Hingga kini, pihak Saudi Aramco belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana penyesuaian harga ekspor tersebut.

Pekan lalu, kelompok Houthi Yaman yang disokong Iran memblokir lalu lintas kapal minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah. Hal ini memaksa produsen minyak terbesar di dunia itu memindahkan porsi pasokan yang lebih besar melintasi Mesir.

Sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus, kapal-kapal tidak dapat lagi menembus Selat Hormuz menuju wilayah Teluk.

Situasi ini mendorong Aramco mengalihkan mayoritas ekspor minyak untuk kawasan Asia melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Pengiriman yang tadinya diberangkatkan dari Ras Tanura kini disalurkan memakai jaringan pipa timur-barat milik perusahaan.

Selama ini, komoditas minyak dari Yanbu dilepas kepada pembeli kontrak jangka panjang sesuai harga jual resmi (official selling price/OSP) Asia plus tambahan tarif pipa.

Menyusul ancaman Houthi, minyak asal Yanbu bakal diangkut terlebih dahulu menuju Pelabuhan Ain Sukhna di pesisir Laut Merah, Mesir. Kemudian, pasokan tersebut dialirkan lewat pipa Suez-Mediterranean menuju Pelabuhan Sidi Kerir.

Tiga sumber lain mengutarakan bahwa Aramco sedang menimbang opsi penyesuaian harga demi menutup kenaikan ongkos logistik. Jalur alternatif ini mesti melintasi Laut Mediterania serta Selat Gibraltar sebelum mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Seorang sumber menaksir pengalihan rute tersebut sanggup memicu pembengkakan beban hingga US$10 juta per pengiriman ke Asia, atau setara US$5 per barel.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua