Breaking

Harga CPO Turun Akibat Tekanan Minyak Nabati Pesaing dan Minyak Mentah

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 19 September 2026
Harga CPO Turun Akibat Tekanan Minyak Nabati Pesaing dan Minyak Mentah
Ilustrasi Minyak Sawit Mentah (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) turun pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Penurunan ini tertekan oleh pelemahan minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago serta penurunan harga minyak mentah.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,93 persen menjadi 4.890 ringgit per metrik ton hingga pukul 15.42 WIB. Namun, secara mingguan kontrak tersebut masih menguat 1,56 persen.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, "futures CPO berada di zona negatif pada Jumat, mengikuti tekanan jual yang melanda sebagian besar komoditas selama perdagangan Asia" sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 1,56 persen, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 1,64 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,74 persen.

Pergerakan harga CPO kerap mengikuti minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global. Pelaku pasar juga mencermati pengumuman resmi pemerintah India terkait potensi penurunan tarif impor yang dapat memengaruhi permintaan minyak sawit Malaysia.

Di sisi lain, harga minyak mentah turun untuk hari ketiga berturut-turut. Penurunan terjadi setelah kekhawatiran gangguan pasokan dari Arab Saudi mereda, meski konflik di Timur Tengah kembali memanas akibat pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman.

Harga minyak mentah yang lebih rendah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Dari sisi pasokan, produksi minyak sawit di Kalimantan sebagai salah satu wilayah penghasil utama di Indonesia diperkirakan turun 12-15 persen pada kuartal IV. Seorang analis mengatakan "perkebunan sawit terdampak cuaca kering berkepanjangan dan kebakaran yang meluas" sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, mata uang perdagangan CPO yaitu ringgit menguat 0,51 persen terhadap dolar AS. Penguatan ringgit ini membuat harga komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua