Breaking

Saham BYAN Anjlok 20,66 persen, Dibayangi Akuisisi Haji Isam

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 17 September 2026
Saham BYAN Anjlok 20,66 persen, Dibayangi Akuisisi Haji Isam
Ilustrasi pergerakan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di Bursa Efek Indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA - Saham PT Bayan Resources (BYAN) bergerak volatil sepanjang tahun ini. Belakangan, kabar pengambilalihan perusahaan oleh bos Jhonlin Group Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam turut menekan pergerakan saham BYAN di lantai bursa.

Seiring dengan lobi-lobi Haji Isam untuk mengambil kendali BYAN yang saat ini berada di tangan Low Tuck Kwong, perusahaan menghadapi keadaan kahar atau force majeure terkait pengurusan RKAB batu bara. Permohonan revisi izin tambang batu bara grup tersebut belum kunjung disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dari lantai bursa, saham BYAN melorot 20,66% ke level Rp11.450 per saham selama satu bulan terakhir. BYAN sempat menyentuh level terendah Rp8.950 per saham dan level tertinggi Rp18.650 per saham dalam satu tahun terakhir.

Rentang harga yang terpaut lebar tersebut mencerminkan volatilitas saham BYAN yang signifikan di tengah kabar pengambilalihan kendali mayoritas. Kondisi force majeure juga semakin meningkatkan kekhawatiran sebagian investor terhadap saham BYAN belakangan ini.

Sebelumnya, BYAN mengungkapkan tiga anak usahanya mengalami kondisi kahar atau force majeure yang berdampak terhadap pemenuhan kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan.

Tiga anak usaha tersebut yakni PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP). Ketiganya menyampaikan kondisi kahar kepada para pelanggan pada 11 September 2026.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/9/2026), manajemen BYAN menyebut kondisi tersebut terjadi karena persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum diterbitkan kepada ketiga anak usaha tersebut.

Perseroan menyatakan permohonan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Kondisi tersebut saat ini memengaruhi kemampuan perseroan dan anak-anak usahanya dalam memenuhi kewajiban kepada pelanggan.

Keadaan kahar tersebut terjadi seiring dengan diskusi yang tengah berlangsung antara pengendali BYAN Low Tuck Kwong dengan Haji Isam terkait pengambilalihan mayoritas saham perusahaan tambang batu bara tersebut.

Haji Isam menawar sekitar US$3 miliar secara tunai untuk membeli 62% saham Bayan Resources yang berbasis di Jakarta.

Sebagian pembayaran kemungkinan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, kata beberapa sumber. Jika transaksi terjadi pada harga tersebut, nilainya akan mencerminkan diskon sekitar 80% terhadap level harga pasar saat ini.

Porsi saham mayoritas milik keluarga tersebut kemungkinan akan dijual dengan diskon besar karena jumlah saham beredar (free float) Bayan yang terbatas dan volume perdagangan yang tipis dapat membuat harga saham yang tercatat di pasar menjadi lebih tinggi dari nilai wajarnya.

Prospek jangka panjang batu bara termal juga suram seiring konsumen beralih ke energi yang lebih bersih. Selain itu, pemerintah Indonesia telah memberlakukan kuota produksi batu bara yang membatasi aktivitas para pemain tambang domestik.

Pembicaraan mengenai penjualan masih berlangsung dan belum ada jaminan kesepakatan akan tercapai, menurut sumber-sumber tersebut.

Pemerintah telah memangkas kuota produksi sejumlah produsen terbesar di Indonesia dalam upaya mendorong kenaikan harga batu bara. Perusahaan lain juga terkena denda besar akibat pelanggaran izin kehutanan.

Bayan termasuk perusahaan yang paling terdampak oleh pemangkasan kuota tersebut, menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini. Para pesaing, termasuk PT Bumi Resources dan PT Adaro Andalan, sebagian besar terhindar dari pemangkasan besar produksi, Bloomberg melaporkan pada Februari.

Low lahir di Singapura dan pindah ke Indonesia ketika berusia awal 20-an. Ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada 1992 dan mendirikan Bayan Resources pada 2004.

Sebagian besar kekayaannya berasal dari perusahaan tambang batu bara yang tercatat di bursa tersebut. Aset utamanya yang lain termasuk 78% saham perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura, Metis Energy Ltd.

Jika seluruh pihak menyepakati persyaratan transaksi, kesepakatan tersebut dapat rampung sebelum akhir tahun, kata salah satu sumber. Isam kemungkinan akan memperoleh pendanaan dari bank-bank milik negara Indonesia, kata sumber lainnya.

Bayan Resources juga mengoperasikan sejumlah pelabuhan di Indonesia. Perusahaan tersebut menjual sekitar 68 juta metrik ton batu bara tahun lalu, ketika membukukan pendapatan sekitar US$3,4 miliar.

Belakangan, Kementerian ESDM menargetkan evaluasi revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 batu bara milik 3 anak usaha BYAN dapat rampung pada pekan ini.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan pengajuan revisi RKAB batu bara yang diajukan 3 anak usaha Bayan tersebut masih dalam proses evaluasi.

Kendati begitu, Tri enggan mengungkapkan apakah proses evaluasi mengalami kendala hingga molor atau tidak.

“Karena lagi evaluasi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan pencermatan atau evaluasi, yang lain sudah kelar,” kata Tri saat ditemui di kompleks parlemen, usai rapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (16/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Secara spesifik saya belum lihat [penyebab belum terbit], tetapi sedang proses lah. Mudah-mudahan minggu ini kelar,” tegas Tri, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dia juga menyinggung dari cukup banyaknya tambang milik grup Bayan, hanya tiga anak perusahaan yang belum menerima revisi RKAB.

“Sekarang gini, Bayan itu punya berapa IUP [izin usaha pertambangan]? [Perusahaan] yang lain sudah atau belum, gitu aja,” tegasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua