Harga BBM Indonesia Baru Saja Naik, Malaysia Justru Turun Pekan Ini
TEROPONGBISNIS.ID — Penurunan harga di Malaysia berlaku untuk periode 3 hingga 9 September melalui mekanisme penetapan harga mingguan. Kementerian Keuangan Malaysia mengonfirmasi harga eceran bensin RON95, RON97, dan diesel non-subsidi turun 5 sen ringgit per liter, setelah sebelumnya ketiganya naik di kisaran yang sama pada pekan lalu.
Kebijakan ini memicu perbandingan langsung dengan langkah Pertamina yang menyesuaikan harga jual sejumlah produk non-subsidi di Indonesia. Kenaikan di dalam negeri berlaku untuk empat produk, dengan rentang penyesuaian bervariasi.
Pertamax Turbo Naik Rp 1.300 Per Liter, Pertamina Dex Tembus Rp 25 Ribu
Di Indonesia, penyesuaian harga BBM non-subsidi terbaru mencatatkan kenaikan paling besar pada Pertamina Dex. Produk diesel tersebut kini dipatok Rp 25.200 per liter, naik signifikan dari harga sebelumnya yang berada di level Rp 21.150 per liter.
Berikut rincian harga terbaru BBM non-subsidi Pertamina:
- Pertamax Green (RON 95): Rp 19.150 per liter, naik Rp 2.550 dari Rp 16.600
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp 19.600 per liter, naik Rp 1.300 dari Rp 18.300
- Dexlite: Rp 23.700 per liter, naik Rp 4.000 dari Rp 19.700
- Pertamina Dex: Rp 25.200 per liter, naik Rp 4.050 dari Rp 21.150
Bensin RON95 Malaysia Kini Rp 16.497 Per Liter
Setelah penurunan 5 sen ringgit, harga BBM non-subsidi di Malaysia kini menjadi lebih murah dari sebagian besar produk sejenis di Indonesia. Bensin RON95 dijual 3,77 ringgit per liter atau setara Rp 16.497 dengan kurs 1 ringgit terhadap Rp 4.375. Adapun RON97 dipatok 4,25 ringgit per liter (Rp 18.597).
Untuk diesel non-subsidi, Malaysia membanderolnya di angka 4,67 ringgit per liter atau setara Rp 20.435.
Mengapa Malaysia Menurunkan Harga?
Kementerian Keuangan Malaysia menyebut penurunan ini dipicu harga minyak mentah global yang diperdagangkan lebih rendah selama mayoritas periode penetapan harga menggunakan rumus Automatic Pricing Mechanism (APM). Rumus ini sudah dipakai sejak 1983 untuk menstabilkan harga mengikuti fluktuasi pasar.
Kendati demikian, pemerintah Malaysia masih mewaspadai potensi gejolak. Pasar produk minyak olahan global dinilai masih mengalami pengetatan pasokan karena gangguan arus minyak bumi melalui Selat Hormuz, berkurangnya kapasitas kilang di sejumlah negara, dan pembatasan ekspor bahan bakar.
"Faktor-faktor ini diperkirakan akan terus menyebabkan volatilitas harga dalam waktu dekat," demikian pernyataan resmi Kementerian Keuangan Malaysia. Para pengendara juga kembali diimbau bijak menggunakan bahan bakar dan menghindari perjalanan yang tidak perlu.