Pendapatan BYD Semester I 2026 Turun, Laba Bersih Anjlok 20,54 Persen — Ekspor Justru Melesat 67,8 Persen
TEROPONGBISNIS.ID — Laporan keuangan yang dipublikasikan BYD dan dikutip CNEV Post menunjukkan penurunan itu terjadi di tengah pergeseran strategi besar: pasar domestik China melemah, tapi lini ekspor justru tumbuh signifikan. Padahal, sektor otomotif masih menyumbang 79,85 persen dari total pendapatan grup, atau setara 275,34 miliar yuan — turun 8,98 persen dibanding tahun lalu.
Sektor bisnis elektronik dan produk lainnya menjadi satu-satunya lini yang mencatat pertumbuhan, naik tipis 0,96 persen menjadi 69,41 miliar yuan, mewakili 20,13 persen pendapatan grup.
Volume Penjualan Domestik Anjlok 15,72 Persen
Sepanjang Januari–Juni 2026, BYD membukukan penjualan kendaraan sebanyak 1.808.511 unit. Angka itu menyusut 15,72 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya — bukti kerasnya persaingan harga di pasar NEV China yang membuat margin produsen semakin tipis.
Namun cerita berbeda datang dari jalur ekspor. BYD mengirim sekitar 792 ribu kendaraan ke luar negeri pada semester pertama, melonjak 67,8 persen dibanding tahun lalu. Artinya, nyaris 44 persen dari total volume penjualan BYD kini berasal dari pasar internasional — proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi pabrikan asal Shenzhen ini.
Merek Premium Jadi Penyelamat Margin
Di tengah tekanan harga segmen entry-level, lini merek kelas atas BYD—Denza, Fang Cheng Bao, dan Yangwang—justru menunjukkan performa impresif. Penjualan gabungan ketiganya meningkat 61 persen, dengan pangsa pasar terhadap total penjualan kendaraan penumpang grup naik ke 12,8 persen.
Pergeseran ini penting bagi struktur profitabilitas BYD. Model-model premium umumnya membawa margin lebih tebal dibanding produk volumen seperti Seagull atau Dolphin yang harganya sudah tertekan perang diskon di China.
Belanja Riset Setara 2,3 Kali Laba Bersih
Kendati laba menyusut, komitmen BYD terhadap riset dan pengembangan tidak kendur. Investasi R&D pada semester pertama mencapai sekitar 28,9 miliar yuan—angka yang nyaris dua setengah kali lipat laba bersih perusahaan pada periode yang sama.
Akumulasi belanja riset BYD sejak berdiri kini telah menembus 270 miliar yuan. Untuk konteks, angka itu lebih besar dari nilai kapitalisasi pasar sebagian besar produsen otomotif Asia Tenggara. Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan platform baru, teknologi baterai solid-state, hingga sistem mengemudi otonom yang belakangan gencar dipasarkan di model-model terbarunya.
Juli 2026: Titik Balik?
Memasuki semester kedua, indikator awal menunjukkan pemulihan mulai terjadi. Penjualan BYD pada Juli mencapai 419.211 unit—naik 21,76 persen dibanding Juli tahun lalu, sekaligus menandai pertumbuhan tiga bulan berturut-turut.
Yang lebih menonjol, ekspor kendaraan penumpang dan truk pikap pada Juli menyentuh rekor 179.841 unit, tumbuh 124,3 persen secara tahunan. Jika tren ini bertahan, BYD diproyeksikan menutup 2026 dengan total volume ekspor di atas 1,5 juta unit—sebuah lompatan besar yang bisa mengompensasi stagnasi pasar domestik.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. BYD telah masuk pangsa pasar otomotif nasional lewat model Seal, Atto 3, dan M6. Jika tekanan domestik China berlanjut, agresivitas BYD di pasar ekspor seperti Indonesia berpotensi meningkat—baik lewat strategi harga maupun percepatan peluncuran model baru.