Perbankan Pertebal Cadangan Risiko Kredit, Bank Buku IV Himbara Kompak Naikkan Impairment
TEROPONGBISNIS.ID — Deretan bank besar di Indonesia tengah memperkuat bantalan risiko kreditnya di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tercatat serentak mengerek beban pencadangan (impairment) pada periode Juli 2026, sebuah langkah yang lazim dilakukan perbankan untuk mengantisipasi potensi memburuknya kemampuan bayar debitur di masa depan.
Rincian Kenaikan Beban Pencadangan Bank Buku IV
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan kenaikan paling besar secara nominal. Beban impairment bank pelat merah ini tumbuh 11,73% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 26,86 triliun. Angka ini mencerminkan portofolio kredit BRI yang sangat besar, khususnya di segmen mikro dan UMKM.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat kenaikan impairment sebesar 33,27% yoy menjadi Rp 5,43 triliun. Adapun PT Bank Mandiri Tbk mengantongi beban pencadangan sebesar Rp 4,79 triliun, atau naik 19,81% yoy hingga bulan ketujuh tahun ini. Kenaikan ini terjadi di tengah ekspansi kredit yang masih agresif oleh seluruh bank.
Kenaikan beban cadangan kerap kali diartikan sebagai sinyal memburuknya kualitas kredit. Namun, rasio kredit macet (non performing loan/NPL) di mayoritas bank masih berada di level aman, yakni di bawah 2%.
Kebijakan Akuntansi Baru Jadi Pemicu Lonjakan Impairment CIMB Niaga
Lonjakan paling tajam justru datang dari kelompok bank buku tiga. PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan lompatan beban impairment hingga 86,06% yoy menjadi Rp 1,05 triliun. Angka ini kontras dengan posisi Januari 2026 yang sempat turun 22,84% yoy.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa fundamental kualitas aset perseroan tetap solid dengan rasio NPL terjaga di level 1,88%. Menurutnya, lonjakan beban tersebut terisolasi dan lebih disebabkan oleh penerapan kebijakan akuntansi baru di anak usaha, yaitu Auto CNAF.
“Kenaikan impairment terisolasi dari kebijakan accounting baru di Auto CNAF secara konsolidasi,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Lani memastikan dampak akuntansi ini bersifat sementara dan bakal ternetralisir dalam enam bulan ke depan. Di luar pos tersebut, seluruh portofolio kredit CIMB Niaga dalam kondisi prima. Penambahan pencadangan dilakukan murni sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak ekonomi yang diprediksi masih berlanjut.
Bank Digital Ikut Menumpuk Amunisi
Strategi serupa juga diterapkan oleh bank digital. PT Krom Bank Indonesia, misalnya, mencatatkan beban impairment sebesar Rp 1,14 triliun atau melonjak 82,9% yoy pada Juli 2026. Angka ini tumbuh sejalan dengan ekspansi kredit yang sangat agresif, mencapai pertumbuhan 53% yoy menjadi Rp 11,29 triliun dalam periode yang sama.
Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyebut langkah ini merupakan wujud kehati-hatian dalam menghadapi risiko kredit. Pihaknya sengaja menerapkan pencadangan yang konservatif atau forward looking dibanding sekadar mengikuti kondisi saat ini.
“Sehingga bank menerapkan pencadangan yang konservatif atau forward looking,” jelasnya.
Meski menggerus laba, strategi ini terbukti tidak menghambat kinerja keuangan Krom Bank. Hingga Juli 2026, bank digital tersebut berhasil membukukan laba bersih Rp 133 miliar, tumbuh 54% yoy. Perusahaan berkomitmen menguatkan sistem manajemen risiko kredit dan meninjau rasio pencadangan secara berkala untuk mempertebal bantalan.
Langkah kolektif perbankan dalam menumpuk cadangan ini menunjukkan sikap waspada industri terhadap perlambatan ekonomi. Di satu sisi, hal ini mengindikasikan potensi tekanan pada kualitas aset ke depan. Namun di sisi lain, kondisi ini justru menegaskan kesehatan fundamental industri perbankan yang masih kuat untuk menghadapi skenario terburuk, sekaligus melindungi kepentingan nasabah dan investor.