Breaking

Bursa Asia Tertekan, KOSPI dan Nikkei Turun Tajam 2 September 2026

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 02 September 2026
Bursa Asia Tertekan, KOSPI dan Nikkei Turun Tajam 2 September 2026
Ilustrasi Pasar saham Shanghai dan Hong Kong mengalami koreksi seiring tekanan global pada 2 September 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Saham-saham Asia turun tajam pada hari Rabu, dengan Jepang dan Korea Selatan memimpin penurunan secara luas seiring lonjakan harga minyak yang mendorong imbal hasil obligasi global lebih tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa bank-bank sentral mungkin harus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Wall Street ditutup sedikit lebih rendah semalam karena lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah menekan ekuitas.

Nikkei 225 Jepang turun 3 persen, sementara indeks TOPIX yang lebih luas melemah 2,5 persen, tertekan oleh penurunan tajam pada saham-saham teknologi. Pasar Jepang juga mendapat tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan pada bulan ini.

Sehari sebelumnya, Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan bahwa bank sentral akan terus mempertimbangkan kenaikan suku bunga dan menilai apakah perkembangan ekonomi dan harga tetap konsisten dengan prospeknya. 

Pernyataan tersebut muncul setelah Departemen Keuangan AS menyebut bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent telah bertemu Ueda dan menyerukan langkah-langkah moneter yang "tegas" untuk memerangi pelemahan yen.

KOSPI Korea Selatan turun 4 persen, dengan saham-saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun lebih dari 4 persen. Penurunan ini terjadi setelah futures minyak mentah Brent naik pada hari Rabu ke sekitar $96 per barel, memperpanjang kenaikan setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam lima minggu.

Lonjakan terbaru harga minyak telah menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi, memperumit prospek bagi bank-bank sentral dan meningkatkan tekanan pada obligasi pemerintah. 

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke 4,804 persen, level tertingginya sejak Januari 2025, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3 persen.

Shanghai Composite China dan blue-chip Shanghai Shenzhen CSI 300 masing-masing turun 1 persen, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,5 persen. Perekonomian Australia tumbuh 0,4 persen pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya, sehingga pertumbuhan tahunan mencapai 2,1 persen, menurut Biro Statistik Australia.

Data tersebut menunjukkan ekspansi yang berkelanjutan meskipun ada kekhawatiran atas melambatnya permintaan dan tingginya biaya pinjaman. S&P/ASX 200 Australia ditutup 1 persen lebih rendah, karena data tersebut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia lainnya tahun ini.

Di Selandia Baru, Reserve Bank menaikkan suku bunga kas resminya sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen, kenaikan kedua berturut-turut, karena para pembuat kebijakan berupaya mengendalikan inflasi. Langkah ini dilakukan ketika pasar sudah bersiap menghadapi kebijakan yang lebih ketat di tengah tekanan harga energi yang kembali meningkat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua