Breaking

Laju Inflasi Asia Beragam di Tengah Tekanan Harga Minyak Dunia

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 24 Agustus 2026
Laju Inflasi Asia Beragam di Tengah Tekanan Harga Minyak Dunia
Ilustrasi inflasi asia (FOTO : NET)

JAKARTA – Laju inflasi negara-negara Asia bergerak tak seragam. Rupanya kenaikan harga minyak mentah yang telah melonjak lebih dari 50% sepanjang tahun ini akibat perang Timur Tengah memiliki pengaruh yang beragam terhadap gerak perubahan harga di masing-masing negara.

Jika dipetakan, maka kondisi inflasi negara-negara Asia setidaknya terbagi jadi tiga kelompok. Pertama, negara dengan inflasi yang relatif terkendali atau berada dalam kisaran target bank sentral seperti Indonesia, India, Thailand, dan Vietnam.

Kedua, negara yang inflasinya sedikit di atas target bank sentral seperti Korea Selatan dan Taiwan. Ketiga, negara dengan tekanan inflasi tinggi seperti Pakistan dan Filipina.

Mengacu data Bloomberg, dari sebagian negara di kawasan, Pakistan mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,2%, disusul Filipina 6,2%. Di sisi lain, China hanya mencatat inflasi 0,5%, jauh di bawah target 2%.

Kenaikan harga minyak mulai menekan permintaan bahan bakar terlihat dari pernyataan Sinopec, perusahaan penyulingan minyak terbesar China sebagaimana dilansir dari berita sumber. Konsumsi bensin di China tercatat turun hampir 8%, sedangkan penggunaan solar turun 12% pada paruh pertama tahun ini akibat harga yang tinggi dan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.

Sementara, inflasi Indonesia tercatat dalam posisi relatif nyaman di 2,88%, masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 3% ± 1%. Sejalan dengan Indonesia, pergerakan inflasi di India juga berada di kisaran 4,45% dari target bank sentralnya 4% ± 2%.

Begitu juga dengan Thailand yang mencatat inflasi 1,95% masih berada di rentang target bank sentral 1-3%, dan Vietnam mencatat inflasi 4,45%, nyaris mendekati batas target 4,5%.

Kedua negara ini menghadapi tekanan harga yang masih relatif terkendali meski memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Sementara, inflasi Malaysia tercatat landai di 1,8% dari posisi sebelumnya di 1,9%.

Sebaliknya, inflasi di Korea Selatan melampaui target bank sentral dan berada di 2,8%, sedangkan targetnya di 2%.

Jika dipersempit pada kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam, maka laju inflasi relatif terkendali, kecuali Singapura yang mengalami percepatan menjadi 2,2%. Meski begitu, inflasi Singapura berada di bawah ramalan Bloomberg Economics (2,7%) dan konsensus yang dihimpun Bloomberg (2,4%).

Sementara Filipina yang mencatat inflasi tinggi 6,2%, sepertinya tak memberikan banyak pilihan pada bank sentral. Terlepas dari inflasi Filipina, dan inflasi di Singapura yang tercatat naik, secara garis besar sebagian besar ekonomi utama di kawasan ASEAN tidak sedang menghadapi lonjakan inflasi yang ekstrem.

Kondisi ini pula yang membuat bank sentral di kawasan ini relatif punya ruang yang lebih leluasa terkait kebijakan suku bunga.

Bank Indonesia (BI) misalnya, memilih mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% dengan inflasi yang masih berada dalam target dan suku bunga riil yang positif. Keputusan suku bunga ini sejalan dengan proyeksi ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg.

Dengan begitu, BI memiliki ruang untuk menyeimbangkan dua kepentingan: menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan.

Langkah yang sama juga ditempuh oleh bank sentral Thailand. Bank of Thailand diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 1%.

Sebaliknya, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) bank sentral Filipina diproyeksikan mengerek suku bunga acuan menjadi 5% dari posisi 4,75% lantaran inflasi yang berada di atas target bank sentral.

Namun, jika ditarik lebih jauh hingga Asia Timur seperti Korea Selatan, maka keputusan bank sentral bisa jadi berbeda. Bank of Korea (BOK) diperkirakan akan kembali mengerek suku bungan acuan sebesar 25 bps menjadi 3% pada pertemuan Kamis (27/8/2026) mendatang.

Perbedaan respons di antara bank sentral di Asia juga menunjukkan bahwa kenaikan harga energi global tak secara otomatis menghasilkan respons moneter yang sama. Respons bank sentral bukan hanya mengacu seberapa tinggi angka inflasi, tapi juga sumber tekanan, kekuatan permintaan domestik, kondisi nilai tukar, dan berapa besar kenaikan biaya energi diteruskan kepada konsumen.

Sementara itu, meski inflasi Singapura tercatat lebih landari dari proyeksi, namun Monetary Authority of Singapore tetap memperingkatkan bahwa inflasi berpotensi meningkat akibat tekanan energi dan dampak konflik Timur Tengah.

Inflasi di Asia umumnya didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang kemudian diteruskan pada harga konsumen. Meski begitu, ternyata dampaknya tidak linear terhadap inflasi kawasan.

Negara yang jadi importir energi akan lebih rentan terhadap kenaikan harga minyak, tapi besar dampaknya juga tergantung pada subsidi energi, struktur konsumsi, kebijakan fiskal, kondisi nilai tukar, dan kemampuan produsen dalam meneriskan kenaikan biaya kepada konsumen.

Meski Indonesia mencatat inflasi yang relatif aman pada Juli, tetapi ruang ini tetap punya batas. Memang harga minyak mentah relatif jinak dan kembali di rentang US$92/barel.

Namun angka tersebut masih berada di atas asumsi makroekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang berada di US$70/barel.

Jika harga rerata minyak mentah tetap terhitung tinggi, maka pemerintah memang masih dapat menekan melalui skema subsidi. Akan tetapi, dampaknya terhadap fiskal tak bisa diabaikan.

Sehingga bagi Indonesia, capaian inflasi yang masih berada dalam target ini masih berisiko datang dari transmisi guncangan eksternal melalui harga energi serta volatilitas nilai tukar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua