Breaking

JPMorgan Pilih Quality Growth, Hyperscaler, dan Saham Semikonduktor

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 25 Agustus 2026
JPMorgan Pilih Quality Growth, Hyperscaler, dan Saham Semikonduktor
Ilustrasi JPMorgan optimistis pasar saham naik bertahap melalui rotasi sektor hingga akhir 2026. (sumber foto: NET)

JAKARTA – JPMorgan tetap optimistis terhadap pasar saham hingga akhir tahun. Namun, bank tersebut memperkirakan penguatan akan berlangsung secara bertahap melalui rotasi sektor, bukan reli luas secara serentak.

Dalam catatan kepada klien pada Senin (24/8/2026), strategi JPMorgan Fabio Bassi menyebut kenaikan pasar kemungkinan berlangsung secara selektif.

"Dalam ekuitas, kami tetap konstruktif hingga akhir tahun, mengharapkan kenaikan bertahap dengan rotasi daripada pergerakan melt-up yang luas," tulis Bassi dalam catatan tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.

JPMorgan menilai pemulihan saham semikonduktor menunjukkan adanya pemulihan taktis dalam selera risiko investor.

Menurut bank tersebut, positioning investor dan perbedaan kinerja antar-aset atau dispersion berpotensi mendorong fase kenaikan berikutnya.

JPMorgan menyukai saham dengan karakteristik Quality Growth dan perusahaan hyperscaler. Bank tersebut juga menilai saham semikonduktor kembali menarik setelah mengalami repricing baru-baru ini.

Reli pasar dapat meluas apabila Federal Reserve tetap menahan diri dalam skenario Goldilocks, yaitu kondisi disinflasi yang berkelanjutan tanpa pelemahan ekonomi yang tajam.

JPMorgan menyoroti aksi jual tajam pada surat utang dengan tenor panjang dan kembali curamnya kurva imbal hasil di pasar negara maju.

Menurut JPMorgan, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor:

Persaingan kebutuhan modal antara belanja modal perusahaan hyperscaler dan penerbitan surat utang pemerintah.

Peningkatan imbal hasil riil investasi seiring menguatnya keyakinan terhadap monetisasi kecerdasan buatan.

Efek crowding out akibat meningkatnya kebutuhan pendanaan dari sektor swasta dan pemerintah.

Meski imbal hasil jangka panjang meningkat, JPMorgan tidak menilai pergerakan tersebut sebagai sinyal kesalahan kebijakan.

"Imbal hasil ujung panjang yang lebih tinggi dan kurva yang lebih curam mungkin mencerminkan permintaan modal yang lebih tinggi dan peluang investasi, lebih dari sekadar ketakutan akan kesalahan kebijakan," tulis JPMorgan.

Bank tersebut menambahkan, kenaikan moderat dalam premi tenor tidak menjadi katalis untuk aksi risk-off secara luas dalam skenario dasarnya.

Sikap Departemen Keuangan
JPMorgan juga mencatat Departemen Keuangan Amerika Serikat meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah tenor 10 tahun dan 30 tahun.

Langkah tersebut dinilai menunjukkan adanya ketidaknyamanan terhadap kenaikan imbal hasil jangka panjang.

Di sisi lain, JPMorgan tidak memperkirakan pertemuan Jackson Hole akan segera menyelesaikan perdebatan mengenai fungsi reaksi kebijakan moneter Federal Reserve.

Dengan demikian, JPMorgan masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham, tetapi investor perlu mengantisipasi pasar yang lebih selektif. Kinerja kemungkinan ditentukan oleh rotasi sektor, positioning, serta perbedaan fundamental antarperusahaan, bukan oleh penguatan menyeluruh.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua