Breaking

Dolar AS Tertekan di Bawah 99,00 di Tengah Pembelian Kembali Obligasi

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 25 Agustus 2026
Dolar AS Tertekan di Bawah 99,00 di Tengah Pembelian Kembali Obligasi
Ilustrasi dolar as (FOTO : NET)

JAKARTA – Indeks Dolar AS mengalami penurunan hingga menyentuh kisaran 98,80 pada sesi perdagangan di Asia hari Senin.

Langkah pembelian kembali obligasi oleh Pemerintah AS memicu kekhawatiran pasar terhadap memburuknya prospek fiskal negara tersebut.

Bessent menyampaikan rencana penyelenggaraan konferensi pers pada hari Senin guna memberikan penjelasan mengenai sanksi baru AS untuk Iran.

Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur nilai Dolar AS (USD) terhadap enam mata uang utama dunia berada di kisaran 98,80 pada perdagangan Asia hari Senin. DXY merosot mendekati posisi terendah dalam tiga bulan terakhir akibat guncangan pasar atas janji Departemen Keuangan AS yang akan meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan pada hari Kamis bahwa instansinya bakal menggandakan nilai pembelian kembali obligasi tenor panjang menjadi US$4 miliar per operasi demi menahan kenaikan imbal hasil obligasi 30 tahun. Langkah tersebut diumumkan sehari setelah departemen terkait mengejutkan pelaku pasar dengan komitmen penggandaan pembelian utang bertenor panjang untuk menekan imbal hasil obligasi.

"Upaya Bessent untuk menekan imbal hasil AS tidak banyak berdampak pada imbal hasil AS, tetapi telah melemahkan dolar," kata Marc Chandler, kepala ahli strategi pasar di Bannockburn Global Forex sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Pasar sedang melawan," tambah Chandler sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Laporan inflasi AS terkini memperlihatkan indikasi peneduhan, meskipun sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) menegaskan perlunya bukti tambahan mengenai penurunan tekanan harga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, estimasi pasar untuk kenaikan suku bunga The Fed pada rapat kebijakan mendatang bergeser ke angka 41,0% dari posisi 47% di bulan sebelumnya.

Pada Senin sore, Scott Bessent dijadwalkan memimpin konferensi pers usai melayangkan ancaman "sanksi terberat dalam sejarah" kepada Iran, sementara para pelaku pasar mencermati kemungkinan pembatasan tersebut menyasar Tiongkok.

Pada pekan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menetapkan kebijakan ekonomi paling keras terhadap Iran dan menyatakan langkah ini merupakan bentuk isolasi serta konflik ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus memperingatkan konsekuensi berat bagi negara yang memberi bantuan keuangan kepada Iran. Eskalasi suhu politik di Timur Tengah berpotensi menguatkan mata uang safe haven seperti USD atas mata uang utama lainnya dalam jangka pendek.

Para ahli strategi di Scotiabank menilai kombinasi kebijakan saat ini menjadikan mata uang AS sangat rentan terhadap isu fiskal. Seiring langkah otoritas menahan biaya pinjaman jangka panjang, mereka menggarisbawahi bahwa penekanan imbal hasil jangka panjang menimpakan beban negatif yang lebih besar pada USD akibat kecemasan kebijakan fiskal, sehingga memperkuat proyeksi bahwa Dolar tetap tertekan selama ketidakpastian berlangsung.

Pejabat The Fed, Musalem, menyampaikan pandangan yang sesuai dengan skor FXS Speechtracker 7/10 dan selaras terhadap rata-rata historis, namun memiliki kecenderungan sedikit lebih hawkish di balik penjelasan kebijakan yang tampak netral. Melalui pernyataan bahwa kebijakan moneter berstatus "netral atau akomodatif" sembari memberi peringatan bahwa inflasi inti bertahan di kisaran 2,5%-3%, probabilitas pencapaian inflasi 2% pada tingkat suku bunga saat ini lebih rendah, serta kenaikan suku bunga saat ini dapat mencegah langkah yang lebih agresif kelak, penyampaian tersebut mengarah pada pengetatan pre-emptive walau tetap memperhitungkan pertumbuhan yang kuat, kondisi keuangan akomodatif, dan potensi guncangan pasokan seperti Super El Nino. Penekanan pada penjagaan kredibilitas The Fed, pemeliharaan independensi kebijakan moneter dari kebijakan fiskal, dan fokus inflasi inti di tengah guncangan pasokan memperkokoh narasi pengutamaan stabilitas harga yang secara moderat menyokong Dolar serta imbal hasil AS.

FXS Fed Sentiment Index mengalami penurunan 0,34 poin menuju level 132,42 yang menandakan penurunan tipis pada persepsi hawkish meski indeks bertahan kuat di atas ambang netral 100. Posisi ini menunjukkan bahwa walaupun penyampaian langsung terkesan berkurang sifat hawkish-nya dibandingkan komunikasi belakangan ini, kerangka kebijakan secara luas berada di area hawkish yang sejalan dengan skor FXS Speechtracker 7/10 serta kecenderungan The Fed menuju pengetatan lanjutan jika inflasi tidak kembali ke target 2% secara meyakinkan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua