Breaking

Investor Cermati Sanksi Iran dan Data Nvidia, FTSE 100 Menguat

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 25 Agustus 2026
Investor Cermati Sanksi Iran dan Data Nvidia, FTSE 100 Menguat
Ilustrasi Indeks FTSE 100 menguat 0,3% di tengah ketegangan sanksi AS terhadap Iran. (sumber foto: NET)

JAKARTA– Saham-saham Inggris berbalik menguat pada perdagangan Senin (24/8/2026) setelah sempat melemah di awal sesi.

Indeks FTSE 100 ditutup naik 0,3%. Penguatan tersebut didukung saham pertambangan dan perusahaan terkait komoditas ketika investor bersiap menghadapi sanksi Amerika Serikat yang lebih ketat terhadap Iran.

Pergerakan bursa Eropa lainnya cenderung melemah:

Indeks DAX Jerman turun 0,1%.

Indeks CAC 40 Prancis melemah 0,4%.

GBP/USD turun 0,1% ke level 1,3633.

Sejumlah saham yang memimpin penguatan FTSE 100 antara lain:

  • Weir Group naik 2,20%.
  • Airtel Africa naik 2,69%.
  • Antofagasta naik 1,72%.
  • Anglo American naik 1,25%.
  • InterContinental Hotels naik 2,07%.
  • IAG naik 2,20%.
  • Diageo naik 3,03%.

Sementara itu, saham Shell turun 0,34%.

Ketegangan Iran Meningkat
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa Teheran dapat menghentikan ekspor minyak melalui Selat Hormuz.

Ia juga menyatakan negara-negara yang mendukung kampanye sanksi Amerika Serikat berisiko dianggap melakukan tindakan perang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan langkah-langkah baru tersebut dalam konferensi pers pada Senin. Ia menggambarkan kampanye itu sebagai "serangan keuangan tunggal terbesar yang pernah dikerahkan terhadap musuh."

Pemerintah AS juga menyerukan kepada sekutu Iran untuk memutus hubungan dengan Teheran. Washington menilai langkah tersebut dapat mempersempit akses Iran terhadap modal global.

Kementerian Luar Negeri Iran menolak sanksi tersebut dan memperingatkan akan memberikan respons tegas, termasuk menargetkan negara-negara yang dianggap bekerja sama dengan Washington.

"Setiap eskalasi situasi ini pasti akan membawa konsekuensi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak justru melemah:

  • Brent turun 1,5% ke US$91,32 per barel.
  • WTI turun 1,8% ke US$85,52 per barel.

Sebaliknya, harga emas menguat:

  • Kontrak berjangka emas Desember naik 0,70% ke US$4.713.
  • Emas spot naik 1,13% ke US$4.655,46.
  • Instrumen XAU/USD naik sekitar 0,87%.

Mohit Kumar dari Jefferies menilai sanksi saja kemungkinan tidak cukup untuk mengubah kebuntuan tanpa dukungan China dan Rusia.

Menurutnya, sanksi biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk memberikan dampak. Iran juga dinilai memiliki insentif untuk mempertahankan tekanan jangka pendek terhadap Amerika Serikat sembari menunggu momentum politik yang lebih menguntungkan.

Dari sisi ekonomi Inggris, ekonom UBS Maelle Quillevere mengatakan data terbaru masih memberikan kejutan positif.

Pasar tenaga kerja Inggris dinilai melonggar tanpa mengalami kerusakan signifikan. Pertumbuhan upah mulai melandai, sementara inflasi inti mereda meskipun inflasi utama meningkat akibat biaya energi.

UBS menilai ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank of England terlalu hawkish. UBS lebih menyukai obligasi Inggris dan memperkirakan pemangkasan suku bunga dapat berlanjut pada 2027 apabila pasar tenaga kerja terus mendingin.

Investor juga menantikan laporan keuangan Nvidia pada Rabu serta pidato Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole pada akhir pekan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua