Breaking

Pasar Wait and See Sanksi AS ke Iran, Brent Terkoreksi 2,17 persen

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 24 Agustus 2026
Pasar Wait and See Sanksi AS ke Iran, Brent Terkoreksi 2,17 persen
Ilustrasi minyak dunia melemah pada awal pekan (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga minyak dunia dibuka melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026) setelah mengalami lonjakan signifikan sepanjang pekan sebelumnya. Para pelaku pasar memutuskan untuk mengambil keuntungan sembari menunggu rilis sanksi terbaru dari Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak mentah dunia.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 08.50 WIB, minyak jenis Brent melorot 2,17% ke level US$92,34 per barel dari penutupan Jumat (21/8/2026) yang sebesar US$94,39 per barel. Pada saat yang sama, West Texas Intermediate (WTI) tergerus 2,25% menjadi US$85,10 per barel dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya di level US$87,06 per barel.

Walaupun bergerak turun pada awal pekan ini, tren penguatan harga minyak sesungguhnya masih terlihat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Brent tercatat masih menguat sekitar 6,5% dari posisi 14 Agustus di level US88,52perbarel, sementara WTI tumbuh lebih dari 3% dari angka US$82,40 per barel.

Kenaikan harga tersebut didorong oleh lonjakan premi risiko seiring memanasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Aksi jual pada Senin terjadi akibat sikap investor yang menantikan kebijakan teranyar Washington terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bakal merilis paket sanksi baru untuk Iran pada Senin waktu setempat.

Pihak pemerintah AS menegaskan bahwa langkah ini merupakan ofensif finansial terbesar yang pernah diterapkan kepada Iran dan menyasar para mitra dagangnya.

Ketidakpastian di pasar kian memuncak setelah Iran membalas dengan ancaman akan menghentikan seluruh pengiriman minyak dari area Teluk Persia jika tekanan ekonomi AS tak kunjung berhenti.

"tidak akan ada setetes pun minyak yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun kawasan Teluk jika perang ekonomi terus berlangsung." kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ancaman tersebut menjadi fokus utama bagi industri energi lantaran Selat Hormuz memegang peranan sebagai jalur transportasi minyak paling penting di dunia. Sebelum eskalasi konflik meluas, sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia melintasi perairan strategis tersebut.

Hambatan pada lalu lintas kapal tanker selama beberapa pekan terakhir telah menggerus volume ekspor sekaligus memperketat ketersediaan barang di pasar global.

Di lain pihak, para pelaku pasar masih mengamati tingkat efektivitas dari sanksi yang diterapkan oleh AS tersebut. Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memperkirakan belum ada kepastian mengenai apakah langkah isolasi ekonomi mampu memangkas ekspor minyak Iran secara mendasar.

Namun, jika strategi itu berjalan efektif, risiko eskalasi ketegangan di Timur Tengah berpotensi kian tinggi dan bisa memicu kembali lonjakan harga energi.

Kabar terbaru memperlihatkan bahwa pihak Iran masih memberikan akses bagi beberapa kapal tanker pengangkut minyak Irak untuk melewati Selat Hormuz usai adanya permohonan dari Baghdad.

Kebijakan ini mengindikasikan bahwa arus distribusi pasokan minyak tidak sepenuhnya lumpuh total. Kendati demikian, pasar tetap memperlihatkan kecenderungan berhati-hati sebab rilis sanksi AS serta tindakan balasan Iran akan menjadi penggerak utama pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua