Breaking

Telkom Bisa Kantongi Dividen Spesial hingga Rp273 dari InfraNexia

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 14 Agustus 2026
Telkom Bisa Kantongi Dividen Spesial hingga Rp273 dari InfraNexia
Ilustrasi Telkom memisahkan bisnis wholesale fiber ke InfraNexia dengan nilai aset mencapai Rp78 triliun. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pemisahan bisnis wholesale fiber PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia mulai menunjukkan skala bisnis yang besar.

Namun, Mirae Asset Sekuritas menilai potensi ekonomi InfraNexia masih perlu dibuktikan melalui peningkatan utilisasi dan kemampuan monetisasi aset.

Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja mengatakan aksi korporasi tersebut berpotensi membuka sumber nilai baru bagi Telkom, terutama melalui masuknya investor strategis. Meski demikian, proses divestasi dan eksekusi bisnis InfraNexia masih perlu dicermati.

Transfer Aset InfraNexia
Telkom memisahkan bisnis wholesale fiber ke InfraNexia dalam dua tahap.

Pada tahap pertama yang efektif sejak Januari 2026, Telkom mengalihkan aset senilai Rp48,9 triliun dan liabilitas Rp13,3 triliun. Berdasarkan penilaian independen, aset tersebut memiliki nilai Rp35,8 triliun atau sekitar 56% dari total aset yang akan ditempatkan di InfraNexia.

Tahap kedua dijadwalkan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 September 2026. Pada tahap tersebut, Telkom akan mengalihkan aset tambahan senilai Rp29,2 triliun dengan nilai penilaian Rp49,9 triliun.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 33% dari ekuitas Telkom pada tahun buku 2025. Sebagai kompensasi, InfraNexia akan menerbitkan 498,6 juta saham baru TIF. RUPSLB untuk rencana transaksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 30 September 2026.

Jika kedua tahap digabungkan, InfraNexia akan memiliki sekitar Rp78 triliun aset yang menghasilkan pendapatan Rp24,8 triliun dan EBITDA Rp16,9 triliun.

Berdasarkan nilai transfer tersebut, bisnis InfraNexia dihargai sekitar 5,9 kali EV/EBITDA.

Aset yang dialihkan pada tahap pertama mencakup jaringan akses fiber sekitar 490.000 kilometer dan backbone fiber sekitar 80.000 kilometer. Adapun kabel bawah laut domestik sepanjang sekitar 25.000 kilometer akan dipindahkan pada tahap kedua.

Restrukturisasi tersebut tidak mengubah laporan keuangan konsolidasian Telkom.

Potensi Valuasi Lebih Tinggi
Mirae Asset menilai valuasi InfraNexia berpotensi lebih tinggi dibandingkan nilai transfernya.

Sebagai pembanding, sejumlah transaksi carve-out bisnis fiber global mencatat median valuasi sekitar 12,8 kali EBITDA. Beberapa transaksi yang menjadi acuan antara lain Telstra sebesar 28 kali, TPG/Vocus 11,2 kali, MORA/MyRepublic 10,2 kali, dan TIM FiberCop 8,6 kali.

Namun, Mirae Asset tidak langsung menggunakan median global tersebut. Tingkat utilisasi InfraNexia yang baru sekitar 40% dan tingginya porsi pendapatan internal grup membuat valuasi perlu diberi diskon sekitar 30%.

Dengan pertimbangan tersebut, Mirae Asset menggunakan multiple dasar 9 kali EV/EBITDA.

Berdasarkan EBITDA yang telah disesuaikan sebesar Rp17,5 triliun, termasuk EBITDA TIF secara standalone, valuasi tersebut menghasilkan enterprise value sekitar Rp157,9 triliun.

Setelah memperhitungkan utang bersih Rp12,3 triliun, nilai ekuitas InfraNexia diperkirakan mencapai Rp145,7 triliun. Angka tersebut setara sekitar 56,8% dari kapitalisasi pasar Telkom saat ini.

“Bisnis ini sebelumnya berpindah tangan dengan valuasi 5,9 kali. Kami menilai nilainya bisa mencapai 9 kali,” kata Daniel dalam risetnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Simulasi Dividen Spesial
Valuasi yang lebih tinggi membuka potensi pembagian dividen spesial bagi pemegang saham Telkom.

Mirae Asset menghitung, apabila Telkom melepas 25% kepemilikannya di InfraNexia dengan multiple 9 kali, nilai transaksi bruto berpotensi mencapai Rp36,4 triliun.

Setelah dikurangi biaya penasihat sekitar 1% dan nilai buku kepemilikan sebesar Rp16,7 triliun, keuntungan kena pajak diperkirakan mencapai Rp19,3 triliun.

Dengan tarif pajak 22%, pajak yang harus dibayarkan diperkirakan sekitar Rp4,2 triliun. Dengan demikian, Telkom berpotensi memperoleh kas bersih sekitar Rp31,8 triliun.

Jika 50% dari dana tersebut dibagikan kepada pemegang saham, nilai pembayaran mencapai sekitar Rp15,9 triliun. Perhitungan tersebut setara dengan dividen spesial sekitar Rp161 per saham.

Dengan mengacu pada harga TLKM sebesar Rp2.610 per saham, dividen tersebut memberikan dividend yield sekitar 6,2%, di luar dividen reguler.

Dalam simulasi lain, apabila porsi saham yang dilepas berada di kisaran 15%-35% dan valuasi bergerak pada 7-11 kali EBITDA, dividen spesial diperkirakan berada di kisaran:

Rp76-Rp273 per saham.

Dividend yield sekitar 2,9%-10,4%.

Sementara itu, dengan asumsi porsi saham yang dilepas tetap 25%, tetapi payout ratio berada di kisaran 30%-70%, dividen spesial diperkirakan mencapai:

Rp96-Rp225 per saham.

Dividend yield sekitar 3,7%-8,6%.

“Besarnya dividen per saham lebih banyak dipengaruhi oleh berapa besar saham yang dijual dan berapa bagian laba yang dibagikan sebagai dividen, dibandingkan oleh perubahan valuasi,” kata Daniel.

Rekomendasi Saham TLKM
Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp3.400 per saham. Target tersebut merefleksikan sekitar 4,2 kali estimasi EV/EBITDA Telkom untuk 2027.

Pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, saham TLKM ditutup turun 0,77% ke level Rp2.590 per saham. Dalam lima hari perdagangan, saham TLKM telah turun 4,43%.

Mirae Asset masih mempertahankan proyeksi keuangan Telkom sembari menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai proses divestasi InfraNexia dan penggunaan dana hasil transaksi.

Pemisahan bisnis tersebut dinilai berpotensi membuka peluang monetisasi aset sekaligus menciptakan sinergi dengan investor baru. Investor strategis juga dapat membawa tambahan bisnis bagi InfraNexia dan meningkatkan kontribusinya terhadap grup Telkom.

Langkah ini sejalan dengan strategi Telkom untuk merampingkan struktur bisnis dan memusatkan perhatian pada operasi inti. Neraca yang lebih efisien diharapkan dapat mendukung peningkatan profitabilitas grup.

Namun, Mirae Asset tetap mengingatkan dua risiko utama, yaitu potensi keterlambatan proses divestasi dan risiko eksekusi bisnis InfraNexia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua