Harga Telur Anjlok 12,07 Persen dan Tengkulak Tekan Peternak Ayam
JAKARTA – Gejolak harga telur dan pakan ayam bukan sekadar kabar duka bagi peternak ayam petelur. Di balik persoalan tersebut, terdapat praktik permainan harga oleh tengkulak dan importir bahan pakan serta pencopotan koordinator wilayah Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya.
Presiden Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) Musbar Mehdi menyampaikan bahwa nasib peternak ayam petelur saat ini seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Nilai jual telur di tingkat peternak merosot jauh di bawah harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp 26.500 per kilogram (kg).
Telur peternak hanya terjual Rp 23.000-Rp 24.000 per kg, bahkan pedagang perantara atau tengkulak menawar hingga Rp 18.000-Rp 19.000 per kg. Penyerapan telur guna menopang program Makan Bergizi Gratis (MBG) pun belum dapat diandalkan.
”Banyak SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) yang tidak menyerap telur peternak secara langsung. Mereka justru membelinya dari para tengkulak,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta, Kamis (13/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Musbar, sejumlah peternak menganggap penurunan harga terjadi akibat oversupply atau kelebihan pasokan telur. Hal ini membuat peternak berkapasitas 300.000 ekor ke atas telah mengafkir 15-20 persen dari populasi ayam petelur milik mereka.
Meskipun demikian, harga telur ayam di tingkat peternak tetap berada di bawah harga acuan pemerintah. Untuk itu, pemerintah didorong menyelesaikan masalah ini dengan menginstruksikan SPPG membeli telur secara langsung dari peternak tanpa perantara tengkulak.
Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan mencatat harga rata-rata nasional telur ayam ras konsumen selalu di bawah acuan Rp 30.000 per kg sejak 9 April 2026 hingga 12 Agustus 2026. Angka terendah tercatat pada 10 Juli 2026 di tingkat Rp 25.985 per kg.
Adapun tingkat harga tertinggi menyentuh Rp 29.896 per kg pada 9 April 2026. Sampai 12 Agustus 2026, rata-rata harga nasional telur ayam ras konsumen berada di Rp 26.381 per kg atau 12,07 persen di bawah acuan penjualan.
Musbar melanjutkan, harga pakan ayam justru mengalami kenaikan rata-rata senilai Rp 1.900 per kg di tengah situasi tersebut. Pembengkakan biaya pakan ini dipicu kenaikan harga jagung domestik dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM) impor.
Kenaikan harga jagung lokal terjadi seiring menurunnya volume produksi di dalam negeri. Sementara pakan SBM impor melonjak akibat tingginya harga di pasar internasional serta pelemahan nilai tukar rupiah.
”Proporsi jagung dan SBM dalam komposisi pakan ayam paling besar, yakni masing-masing 40-55 persen dan 22-25 persen. Maka, tidak mengherankan jika harga pakan turut naik,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Musbar juga menerangkan bahwa sekitar 35 persen kebutuhan bahan baku pakan ayam selama ini masih bergantung pada pasokan impor. Dari total tersebut, porsi sebesar 25 persen merupakan komoditas SBM.
Berdasarkan Basis Data Ekspor-Impor Komoditi Pertanian Kementan, volume impor SBM (HS 23040090) konsisten meningkat dalam tiga tahun terakhir. Angka impor tercatat 5,33 juta ton pada 2023, 5,43 juta ton pada 2024, serta 5,96 juta ton pada 2025, lalu mencapai 3,43 juta ton sepanjang Januari-Juni 2026.
”Meskipun impor SBM sudah dialihkan ke PT Berdikari (Persero), badan usaha milik negara tersebut saat ini baru memegang sekitar 60 persen. Sisanya, yakni sekitar 40 persen, masih ditangani importir umum,” kata Musbar sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Aturan pengalihan impor SBM dari sektor swasta ke PT Berdikari sejatinya berlaku mulai 1 Januari 2026. Namun, pemerintah menerapkan masa transisi pelaksanaan pengalihan ini hingga 31 Maret 2026 atau selama tiga bulan.