Breaking

Pemulihan Smelter Timur Tengah Tekan Harga Aluminium 0,9 Persen

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 13 Agustus 2026
Pemulihan Smelter Timur Tengah Tekan Harga Aluminium 0,9 Persen
Ilustrasi Aluminium (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga aluminium terkoreksi selama dua hari berturut-turut setelah produsen smelter terbesar di Timur Tengah berencana mempercepat pemulihan operasinya.

Langkah strategis tersebut berhasil mengurangi kecemasan pasar terkait risiko kelangkaan pasokan aluminium.

Emirates Global Aluminium PJSC memproyeksikan tingkat produksinya kembali normal seperti sebelum konflik pada kuartal I 2027.

Sebelumnya, operasional smelter utama perusahaan terhenti akibat kerusakan fasilitas yang dipicu serangan Iran pada Maret.

Pernyataan resmi tersebut memicu kemerosotan harga aluminium secara signifikan pada Rabu (12/8).

Sebelumnya, reli kenaikan harga aluminium terjadi selama tujuh hari berturut-turut seiring ketegangan Iran dan Amerika Serikat yang menjauh dari titik temu pembukaan Selat Hormuz.

Jalur perairan tersebut menjadi urat nadi ekspor utama bagi berbagai smelter di wilayah kawasan sebelum bentrokan meluas.

Sementara itu, stok aluminium di London Metal Exchange (LME) terus menyusut hingga menyentuh titik terendah sejak 1990.

Tekanan pasokan sempat menguat usai pemilik smelter aluminium terbesar di Australia mengamankan suntikan dana pemerintah sebesar A$2,5 miliar atau sekitar US$1,8 miliar pada Kamis (13/8). Bantuan finansial tersebut memastikan smelter Tomago dapat terus mempertahankan operasionalnya.

Fasilitas smelter Tomago tercatat memproduksi sekitar 590.000 ton aluminium per tahunnya.

Meskipun paket penyelamatan ini sudah diprediksi, langkah tersebut memperlihatkan upaya intensif pemerintah dalam melestarikan kapasitas produksi yang merugi.

“Aluminium saat ini berada pada level yang relatif tinggi,” kata Chaos Ternary Futures Co. dalam catatannya pada Kamis (13/8) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lembaga riset tersebut menilai bahwa dinamika pasokan dan permintaan perlahan mulai bergeser menuju kondisi surplus.

Perkembangan ini diprediksi akan terus membebani pergerakan harga aluminium dalam jangka menengah.

Pada pukul 12.10 waktu Shanghai, harga aluminium melemah 0,9% menjadi US$3.282,50 per ton.

Pelemahan turut melanda komoditas logam dasar lainnya, di mana tembaga terkikis 0,4% dan seng menyusut 0,8%.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua