Breaking

SBN Rupiah Berpotensi Kembali Dilirik Investor Usai Inflasi AS Melandai

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 13 Agustus 2026
SBN Rupiah Berpotensi Kembali Dilirik Investor Usai Inflasi AS Melandai
Ilustrasi SBN Rupiah (FOTO : NET)

JAKARTA – Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) menyampaikan bahwa inflasi headline (CPI) berada di angka 3,4% secara year on year (yoy) pada Juli 2026, sedikit turun dari posisi Juni yang sebesar 3,5%.

Di sisi lain, inflasi inti tercatat mencapai 2,5% yoy, merosot dari pencapaian bulan sebelumnya yang berada di tingkat 2,6%.

Capaian inflasi headline maupun inti tersebut selaras dengan estimasi para ekonom dalam survei Reuters, yang memprediksikan inflasi headline di level 0,1% month on month (mom) dan 3,4% yoy, serta inflasi inti di angka 0,2% mom dan 2,5% yoy.

Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe mengungkapkan bahwa indikator global pada pagi ini memperlihatkan pergerakan sentimen mixed yang cenderung positif.

Harga minyak Brent berada pada level US$ 88,4 per barel atau menyusut 0,61% dari penutupan perdagangan sebelumnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Indeks dolar (DXY Index) merambat naik 0,14% menuju posisi 100,0, akan tetapi yield US Treasury (UST) justru mengalami penurunan dibanding hari sebelumnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Yield curve UST tenor 5-tahun dan 10-tahun secara berurutan melandai 1 basis poin (bp) serta 2bp ke tingkat 4,38% dan 4,68%, sedangkan Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia susut 1bp ke level 88bp sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Amir menyampaikan bahwa atas pertimbangan jajaran faktor tersebut, BNI Sekuritas memproyeksikan adanya potensi permintaan pada SBN rupiah meskipun tingkat imbal hasil yang diharapkan tetap rentan terhadap dinamika global serta kondisi likuiditas dalam negeri.

“Berdasarkan valuasi yield curve, kami memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor yakni FR0064, FR0101, FR0104, FR0087, FR0109,” ujar Amir dalam risetnya pada Kamis (13/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, pergerakan harga instrumen Surat Utang Negara (SUN) ditutup secara bervariasi (mixed) pada sesi perdagangan kemarin (12/8).

Berdasarkan data PHEI, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) mengalami penurunan 4 basis point (bp) menuju level 7,13%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) terangkat 1 bp ke tingkat 7,19%.

Merujuk pada data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) bertahan pada posisi 7,24%.

Angka yield curve 10-tahun (GIDN10YR) tersebut masih berada di dalam rentang perkiraan mingguan kami untuk pekan ini pada kisaran 7,13%-7,42%.

Adapun volume transaksi SBN secara outright terhitung sebesar Rp 16.9 triliun kemarin, menurun dibandingkan volume transaksi hari sebelumnya yang mencapai Rp 18.9 triliun.

PBS030 bersama FR0109 menjadi dua seri paling aktif di pasar sekunder, dengan angka transaksi masing-masing menyentuh Rp 4,1 triliun dan Rp 2,8 triliun, sedangkan transaksi obligasi korporasi secara outright terhitung Rp 6,8 triliun.

Data Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,09%, bergeser dari posisi Rp 17.861 per dolar AS pada hari Selasa menjadi Rp 17.877 per dolar AS kemarin.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua