Breaking

Pemerintah Perkuat Stok dan Bantuan Pangan Beras Hadapi El Nino

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Minggu, 02 Agustus 2026
Pemerintah Perkuat Stok dan Bantuan Pangan Beras Hadapi El Nino
Ilustrasi Stok beras pemerintah mencapai sekitar 5,25 juta ton sebagai cadangan menghadapi musim kemarau panjang. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan tiga strategi utama untuk menjaga stabilitas harga beras menghadapi ancaman El Nino 2026 yang diperkirakan masuk kategori sangat kuat.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan produksi dan gejolak harga pangan selama musim kemarau.

"Beras memang ada beberapa yang agak naik sedikit, tetapi secara umum masih cukup stabil. Namun demikian, pertama Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digencarkan pemerintah. Kedua, SPHP beras medium digencarkan ke pasar-pasar. Lalu program bantuan pangan beras tahap kedua untuk bulan Agustus akan digeber," ujar Ketut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Data Bapanas menunjukkan harga Gabah Kering Panen (GKP) berada di kisaran Rp 6.500–Rp 7.700 per kilogram, level yang masih menguntungkan petani. Per 30 Juli 2026, rata-rata harga beras medium di penggilingan Rp 13.251 per kilogram dan beras premium Rp 14.673 per kilogram.

Sepanjang Januari–Juli 2026, pemerintah telah menggelar 6.589 kali Gerakan Pangan Murah di 38 provinsi dan 448 kabupaten/kota. Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 1,43 juta ton, terdiri atas SPHP Januari–Februari 221.050 ton, SPHP Maret–Juli 552.380 ton, serta bantuan pangan tahap pertama 662.880 ton.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan menyalurkan bantuan pangan tahap kedua sebanyak 997.200 ton kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat, masing-masing 10 kilogram per bulan selama tiga bulan. Dengan penyaluran ini, total distribusi CBP diperkirakan melampaui 2 juta ton, sementara stok beras pemerintah masih sekitar 5,25 juta ton.

Ketut menilai stok besar tersebut menjadi modal penting menjaga pasokan sekaligus meredam potensi kenaikan harga jika dampak El Nino mulai memengaruhi produksi pangan.

BMKG melaporkan El Nino 2026 telah memasuki fase aktif setelah anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik melampaui ambang batas 0,5 derajat Celsius. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi Agustus–September 2026, dengan peluang El Nino berkembang menjadi kategori sangat kuat mencapai 75 persen dan bertahan hingga awal 2027.

Kondisi ini berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang dan kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua