Breaking

Blockchain Buka Akses Saham Global hingga Emas Mulai Rp11.000

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 19 September 2026
Blockchain Buka Akses Saham Global hingga Emas Mulai Rp11.000
Ilustrasi saham global, ETF, emas, dan perak yang direpresentasikan dalam bentuk token digital di blockchain (sumber foto: NET)

JAKARTA - Blockchain selama ini lekat dengan aset kripto. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut kini mulai meluas dengan menghadirkan aset dunia nyata seperti saham, ETF, indeks, hingga emas dalam bentuk token digital.

Perkembangan tersebut dikenal sebagai tokenisasi real-world assets (RWA). Melalui tokenisasi, aset dapat direpresentasikan secara digital di blockchain dan diakses investor secara fractional, sehingga eksposur terhadap aset global tidak harus dilakukan dalam jumlah besar.

Di Indonesia, perkembangan tokenisasi RWA mulai didorong melalui kolaborasi Pintu dan Ondo Finance. Platform aset kripto tersebut kini memperluas pilihan aset tokenisasi yang dapat diakses pengguna.

President Director PINTU, Andy Putra mengatakan RWA membuka peluang bagi investor Indonesia untuk mendapatkan eksposur terhadap aset kelas dunia tanpa harus keluar dari ekosistem yang teregulasi.

“RWA membuka jalan bagi investor Indonesia untuk memiliki eksposur terhadap aset-aset kelas dunia, mulai dari saham global, indeks, hingga komoditas yang bisa didapat secara fractional dan terjangkau, tanpa harus keluar dari ekosistem yang teregulasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pintu mulai mencantumkan aset tokenisasi dari Ondo Finance sejak Desember 2025 dengan empat token. Jumlah tersebut kini telah berkembang menjadi hampir 50 token, dengan target mencapai ratusan aset tokenisasi sepanjang 2026.

Aset yang tersedia mencakup saham perusahaan global seperti Apple dan NVIDIA, ETF serta indeks seperti S&P 500 dan NASDAQ, hingga komoditas emas dan perak.

Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan peran blockchain. Teknologi ini tidak lagi hanya menjadi infrastruktur di balik transaksi kripto, tetapi juga digunakan untuk menghadirkan representasi digital dari aset dunia nyata.

Senior Director Asia Pacific Ondo Finance, Rania Rahardja mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik di Asia Pasifik.

Menurutnya, kolaborasi dengan platform yang teregulasi dapat membuat akses terhadap saham global dan ETF berbasis blockchain menjadi lebih sederhana.

Akses terhadap aset menjadi salah satu perubahan yang ditawarkan melalui tokenisasi. Aset tokenisasi tersebut dapat diakses dalam satu aplikasi dengan denominasi rupiah.

Mekanisme fractional juga memungkinkan pengguna mulai berinvestasi dari Rp11.000. Transaksi dapat dilakukan selama 24 jam, sehingga akses tidak terpaku pada jam perdagangan bursa konvensional.

Untuk penjualan, terdapat pajak final sebesar 0,21 persen, sementara perusahaan menyebut tidak ada biaya transaksi tersembunyi.

Aset tokenisasi yang ditawarkan melalui layanan tersebut juga disebut berada dalam pengawasan OJK sesuai kerangka regulasi yang berlaku.

Perkembangan tokenisasi RWA tidak hanya berlangsung di Indonesia. Data rwa.xyz yang dikutip dalam materi perusahaan menunjukkan nilai pasar RWA tumbuh sekitar empat kali lipat dalam satu tahun menjadi sekitar 25 miliar dolar AS – 35 miliar dolar AS, di luar stablecoin.

Sejumlah institusi besar seperti BlackRock dan Franklin Templeton juga disebut ikut mendorong perkembangan sektor tersebut.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan blockchain mulai bergerak dari teknologi yang identik dengan kripto menjadi infrastruktur untuk berbagai bentuk aset digital.

Meski akses terhadap aset semakin mudah, Andy mengingatkan bahwa aset kripto dan aset tokenisasi tetap memiliki risiko investasi yang tinggi serta volatilitas yang perlu dipahami investor.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua