Breaking

Harga Sayur Naik, Warteg Bertahan di Tengah Kemarau Panjang

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Senin, 20 Juli 2026
Harga Sayur Naik, Warteg Bertahan di Tengah Kemarau Panjang
Ilustrasi pasokan sayuran (Sumber : NET)

JAKARTA – Kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran di Jakarta kini dirasakan oleh pedagang hingga pengelola warung makan. Persoalan ini dipicu oleh gangguan pasokan akibat musim kemarau panjang, perubahan iklim, serta strategi pelaku usaha kecil untuk bertahan tanpa membebani konsumen.

Berdasarkan Data Info Pangan Jakarta per 20 Juli 2026, harga tomat mencapai Rp18.672 per kilogram, kentang Rp19.482 per kilogram, telur ayam ras Rp26.472 per kilogram, dan cabai merah keriting Rp46.021 per kilogram. Sementara itu, komoditas seperti bawang merah, Minyakita, dan ayam broiler justru mengalami penurunan harga.

Budi, seorang pedagang di Pasar Pondok Gede, menyebut lonjakan harga tertinggi terjadi pada buncis dan kacang panjang. "Normalnya Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram. Sekarang sempat menyentuh Rp30 ribu per kilogram, meski sekarang mulai turun sedikit menjadi sekitar Rp25 ribu," ujar Budi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Budi, konsumen tidak berhenti membeli sayur tetapi mengubah pola belanja mereka. "Kalau sayur kan kebutuhan pokok. Tetap beli, cuma porsinya dikurangi," ucap Budi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ketua Kowantara, Mukroni, menyatakan pelaku usaha makanan kini berada di posisi sulit karena kenaikan harga bahan baku tidak bisa langsung dibebankan kepada pelanggan. "Kalau sekarang ini kami susah menaikkan harga. Takut pelanggan lari, sehingga yang dilakukan sementara adalah mengurangi keuntungan supaya usaha tetap bertahan," kata Mukroni sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mukroni menilai musim kemarau dan fenomena El Nino mengurangi produksi sayuran yang membutuhkan tanah lembap seperti kangkung, pare, hingga terong. "Kalau supply berkurang, harga pasti naik. Ini yang perlu dimitigasi pemerintah sejak awal," ujar Mukroni sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mukroni menambahkan bahwa menaikkan harga menu adalah pilihan terakhir bagi pengusaha warteg. "Itu pilihan terakhir. Selama masih bisa ditahan, kami akan bertahan," ucap Mukroni sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia berharap pemerintah memastikan distribusi bantuan tepat sasaran bagi pedagang kecil melalui subsidi atau intervensi BUMD. "Yang penting tepat sasaran. Jangan sampai bantuan justru tidak sampai kepada pedagang kecil," kata Mukroni sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan tidak akan membiarkan kenaikan harga sayuran ini tanpa intervensi. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah meminta TPID untuk mengecek penyebab kenaikan harga dan memantau distribusi pasokan dari daerah sentra produksi.

Pramono menegaskan pemerintah berkomitmen mengendalikan situasi agar gejolak harga tidak berlangsung lama. "Kami akan mengontrol, TPID akan mengontrol mengenai apa perubahan atau kenaikan ini. Karena yang dilihat spot pada hari ini, tentunya kami akan mengecek untuk itu. Tetapi yang jelas bahwa Pemerintah DKI Jakarta segera akan menangani ini," ujar Pramono sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah memilih mengevaluasi kondisi pasokan terlebih dahulu sebelum menentukan bentuk intervensi yang tepat. Pendekatan ini dilakukan agar kebijakan yang diambil benar-benar menjawab persoalan distribusi dan ketersediaan stok di lapangan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua