Breaking

Tekan Impor, Pemerintah Siap Konversi Surplus Solar Jadi Avtur

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 13 Juli 2026
Tekan Impor, Pemerintah Siap Konversi Surplus Solar Jadi Avtur
Tangki penyimpanan bahan bakar yang berisi bahan bakar jet alias avtur. (Foto: Bloomberg)

JAKARTA - Pemerintah mulai mengatur langkah besar guna mengonversi potensi kelebihan pasokan minyak solar menjadi peluang bisnis baru. 

Sejalan dengan kenaikan kapasitas kilang domestik serta implementasi program biodiesel 50% (B50), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan Indonesia bakal mengalami surplus pasokan solar dalam beberapa tahun mendatang. 

Ketimbang membiarkan kelebihan pasokan tersebut menumpuk begitu saja, pemerintah berniat mengolahnya menjadi bahan bakar penerbangan atau avtur lewat pembangunan fasilitas pengolahan baru yang ditargetkan mulai berjalan pada akhir tahun ini. 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan, pasokan solar tambahan ini bersumber dari optimalisasi kilang minyak nasional, khususnya fasilitas di Kalimantan Timur yang bisa memproduksi sekitar 5,6 juta kiloliter.

Menurut Bahlil, pemerintah didampingi PT Pertamina tengah menghitung jumlah pasti kelebihan pasokan tersebut. Kendati demikian, volumenya diproyeksikan menyentuh angka jutaan kiloliter per tahun sehingga harus diserap lewat pengembangan industri hilir.

"Langkah berikutnya adalah kami akan mendorong pembangunan fasilitas avtur. Karena bahan baku avtur hampir sama dengan solar," ujar Bahlil. Rencana ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi pada sektor energi sekaligus mendongkrak nilai tambah dari hasil pengolahan minyak di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo berpandangan bahwa pemanfaatan kelebihan solar ini ialah langkah yang sudah tepat. 

Namun, ia mewanti-wanti kalau proses konversi solar menjadi avtur memerlukan pengolahan lanjutan agar bisa memenuhi standar spesifikasi bahan bakar penerbangan. Menurut Hadi, secara teknis pengerjaan tersebut hanya bisa dilakukan pada kilang modern yang telah dilengkapi fasilitas pengolahan memadai.

"Saat ini RDMP Balikpapan dan Kilang Cilacap secara spesifikasi teknis mampu melakukan itu," ujarnya.

Di sisi lain, rencana ini dinilai membuka jalan bagi Indonesia untuk tampil sebagai pemain baru di pasar avtur regional. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memprediksi kapasitas produksi avtur fosil nasional bakal membukukan surplus atau net gap positif hingga di atas 4,11 juta kiloliter pada tahun 2026. 

Dengan volume tersebut, produksi dalam negeri dirasa tidak hanya sanggup mencukupi seluruh kebutuhan avtur domestik, melainkan juga menghilangkan ketergantungan terhadap pasokan impor dan membuka celah ekspor ke negara-negara di Asia Tenggara. Untuk bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), Indonesia pun diproyeksikan meraih surplus sekitar 0,23 juta kiloliter pada 2026.

Walau begitu, perwujudan rencana ini tetap memerlukan suntikan investasi yang besar. Yayan menjabarkan, seandainya pemerintah sekadar mengubah rasio distilasi pada kilang yang telah beroperasi saat ini, kebutuhan dana yang diperlukan tergolong terbatas karena lebih masuk ke dalam biaya operasional. 

Sebaliknya, bila pemerintah berniat mendirikan unit produksi avtur yang baru seperti skenario awal, investasi yang diperlukan diperkirakan menyentuh angka ratusan juta dolar Amerika Serikat.

Manajer Riset dan Data Seknas Fitra Badiul Hadi menimpali bahwa pendirian kilang baru memerlukan dana yang jauh lebih besar lagi. Sebagai ilustrasi, proyek Kilang Tuban yang berkapasitas 300.000 barel per hari diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 16 miliar hingga US$ 18 miliar. 

Nilai investasi tersebut bahkan dapat membengkak melewati US$ 20 miliar atau berkisar antara Rp 260 triliun hingga Rp 330 triliun jika turut dilengkapi dengan kompleks petrokimia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua