Indeks Penjualan Riil Juni 2026 Diperkirakan Terkontraksi 4,4 Persen

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 09 Juli 2026
Indeks Penjualan Riil Juni 2026 Diperkirakan Terkontraksi 4,4 Persen
Ilustrasi: Indeks Penjualan Riil Juni 2026 diperkirakan turun 4,4 persen menurut Bank Indonesia. (Foto: NET)

JAKARTA – Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 mencapai 221,6. Hal ini disokong oleh pertumbuhan penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori maupun perlengkapan rumah tangga lainnya.

“Secara bulanan, penjualan eceran pada Juni 2026 diperkirakan turun sebesar -0,8%. Perkembangan ini dipengaruhi oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Dari pendataan BI pada Mei 2026, IPR tercatat sebesar 223,4. Kinerja tersebut ditopang oleh penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, serta barang budaya dan rekreasi.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2026 turun sebesar -1,5% (mtm), lebih baik dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya yang turun sebesar -11,6% (mtm). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

Kinerja penjualan eceran secara bulanan pada Juni 2026 disokong oleh kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya (1,9%) dan subkelompok sandang (4,7%) seiring mulai masuknya periode liburan sekolah pada akhir Juni 2026. Sementara itu, kelompok barang budaya dan rekreasi (-2,0%); kelompok suku cadang dan aksesori (-3,1%); serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau (-0,7%) mengalami perbaikan dari periode sebelumnya meski masih tertahan di zona kontraksi.

Secara tahunan, IPR diperkirakan mengalami kontraksi 4,4% pada Juni 2026. Berdasarkan kelompoknya, kelompok suku cadang dan aksesori (tumbuh 11%) serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya (tumbuh 1,8%) masih menunjukkan kinerja yang positif.

Di sisi lain, beberapa kelompok diperkirakan masuk ke dalam zona kontraksi, yaitu kelompok barang budaya dan rekreasi (terkontraksi 8,5%) serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor (terkontraksi 7,8%), setelah pada periode sebelumnya masing-masing tumbuh sebesar 0,2% dan 0,3%.

Responden survei BI memperkirakan penjualan eceran pada Agustus dan November 2026 akan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Agustus dan November 2026 masing-masing sebesar 159,8 dan 153,8, lebih tinggi dari 138,3 dan 149,4 pada Juli dan Oktober 2026.

Peningkatan pada IEP Agustus 2026 dipengaruhi oleh kegiatan HUT RI, sementara peningkatan pada IEP November 2026 dipengaruhi oleh persiapan hari raya Natal.

Tekanan inflasi pada Agustus 2026 diperkirakan meningkat, sementara pada November 2026 diperkirakan relatif stabil. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 sebesar 178,0, lebih tinggi dari IEH Juli 2026 sebesar 175,8 karena kenaikan harga bahan baku.

“Sementara itu, IEH November 2026 diperkirakan sebesar 167,5, relatif stabil dibandingkan dengan IEH Oktober 2026 sebesar 167,6,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua