Harga Minyak Dunia Masih Rentan Dibayangi Tekanan Pekan Ini
- Senin, 25 Mei 2026
JAKARTA - Nilai jual minyak mentah global berakhir menguat pada sesi penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026) pekan lalu, seiring munculnya kecemasan pelaku pasar bahwa pihak Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menemukan titik temu dalam kesepakatan damai yang bisa memulihkan kelancaran jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.
Komoditas minyak jenis Brent finis melonjak 0,94 persen menuju angka USD103,54 tiap barel. Di sudut lain, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) asal AS ikut menguat 0,26 persen menuju level USD96,60 tiap barel.
Kedua instrumen kontrak tersebut bahkan sempat melejit di atas 3 persen pada pembukaan sesi perdagangan.
Baca JugaKontrak CPO di Bursa Malaysia Melemah Hari Ini, Simak Rincian Harganya
Walau mencatatkan performa positif secara harian, grafik harga minyak bumi nyatanya tetap membukukan penurunan mingguan yang cukup dalam akibat besarnya gejolak pasar yang dipicu oleh dinamika prediksi seputar kans terjadinya kesepakatan antara AS dengan Iran.
Jika dihitung secara mingguan, tarif minyak Brent merosot di kisaran 5,48 persen, sementara varian WTI mengalami koreksi yang jauh lebih curam yaitu sebesar 8,37 persen.
Para pelaku pasar terpantau masih mengamati dengan saksama kelanjutan proses perundingan geopolitik tersebut yang diprediksi bakal menjadi penentu utama bagi ketersediaan pasokan minyak global dalam waktu dekat.
Berdasarkan penilaian pengamat dari FXEmpire Vladimir Zernov, dari sisi teknikal grafik harga minyak jenis WTI terpantau masih mencoba untuk menembus ke bawah zona support di rentang USD97,00 sampai USD97,50 tiap barel.
Apabila pergerakan harga sanggup menetap di bawah level USD97,00, maka varian WTI memiliki peluang besar untuk meneruskan tren penurunan menuju ke area support selanjutnya pada rentang USD91,00 hingga USD91,50 tiap barel.
Sedangkan untuk varian minyak Brent, harganya diestimasi bakal melaju ke arah zona support di kisaran USD96,00 sampai USD96,50 tiap barel sekiranya mampu melewati batas support di rentang USD103,00 hingga USD103,50 tiap barel.
Zernov mengimbuhkan, indikator Relative Strength Index (RSI) untuk saat ini terpantau masih menempati zona moderat, sehingga peluang arah pergerakan harga dinilai masih cukup lebar jika sewaktu-waktu muncul sentimen penggerak baru di bursa.
Ibtihal
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026












