Rabu, 20 Mei 2026

Imbas Sentimen India, Harga Batu Bara Sentuh Level Tertinggi Sejak Maret

Imbas Sentimen India, Harga Batu Bara Sentuh Level Tertinggi Sejak Maret
Ilustrasio Batu Bara. (Foto: goodstats.id)

JAKARTA - Nilai jual komoditas batu bara menunjukkan peningkatan selama tiga hari berturut-turut. Merujuk pada data Refinitiv dalam aktivitas transaksi Selasa (19/5/2026), harga batu bara berada di posisi US$ 139,4 per troy ons atau mengalami kenaikan sebesar 1,01%.

Kenaikan ini melanjutkan tren positif yang telah menguat sampai 4,5% sepanjang tiga hari belakangan. Nominal tersebut pun menjadi pencapaian paling tinggi semenjak 31 Maret 2026 atau dalam jangka waktu 1,5 bulan terakhir. Melesatnya harga batu bara ini dipicu oleh adanya sentimen positif yang berasal dari India.

Rencana ekspansi kapasitas produksi baja di India diperkirakan akan memicu penumpukan impor batu bara kokas mendekati angka 6 miliar ton untuk beberapa dasawarsa mendatang, yang berisiko menelan biaya impor hingga mendekati $1 triliun.

Baca Juga

Tembus Pasar Eropa, Kakao Kepulauan Yapen Bidik Ekspor Rp108 Miliar

Sejalan dengan target India untuk membukukan kapasitas baja mentah sebesar 300 juta ton per tahun pada tahun 2030, kurang lebih 64% dari total 382 juta ton kapasitas yang tengah berjalan saat ini bertumpu pada teknologi blast furnace yang amat boros dalam pemanfaatan batu bara. 

Mempertimbangkan ketetapan rata-rata yang menyentuh 770 kilogram batu bara metalurgi untuk tiap ton baja, kapasitas blast furnace yang sedang dirancang itu saja diproyeksikan membutuhkan suplai tambahan hingga 140 juta ton batu bara setiap tahunnya, atau hampir menggandakan besaran volume pasokan saat ini.

Ketergantungan Impor dan Proyeksi

Untuk masa sekarang, sektor industri baja di India mendatangkan 90% keperluan batu bara metalurgi dari luar negeri. Situasi ini berlangsung disebabkan batu bara kokas lokal dianggap memiliki kadar abu serta sulfur yang kelewat tinggi, sehingga kurang optimal untuk memproses pembuatan baja. 

Kegiatan impor batu bara metalurgi tersebut tercatat naik 9,4% secara tahunan (year-on-year) pada 2025 dengan total menembus 83,1 juta ton. Melalui proyeksi S&P Global, angka ini diperkirakan terus merangkak naik hingga 149 juta ton pada 2035, dari kisaran 94 juta ton pada tahun 2026.

Peningkatan tajam pada permintaan batu bara kokas diprediksi bergerak dari 87 juta ton pada FY25 menuju 135 juta ton pada 2030, selaras dengan masifnya perluasan sektor baja di bawah naungan Kebijakan Nasional Baja. 

Operasional jalur blast furnace - basic oxygen furnace memegang porsi berkisar 65% dari kapasitas terpasang sekaligus menyerap 95% dari total keseluruhan keperluan batu bara kokas di India.

Di sisi lain, pergerakan pasar batu bara termal di China justru memperlihatkan kelesuan lantaran minimnya serapan dari sektor industri serta energi, ditambah dengan sikap para pelaku pasar yang cenderung wait and see. 

Ada beberapa faktor krusial yang mendasari kondisi tersebut, di antaranya ialah volume permintaan yang tipis serta atmosfer pasar yang terlampau waspada. 

Angka konsumsi listrik di dalam negeri mengalami penciutan karena cuaca musim panas yang terhitung sejuk dan adanya langkah efisiensi energi di lingkungan industri. 

Sejumlah pembangkit listrik berbasis batubara pun memilih lebih berhati-hati dalam menjalankan transaksi pembelian sebab volume pasokan cadangan dirasa masih sangat aman.

Pihak distributor maupun konsumen juga tampak menahan diri untuk menyepakati kontrak jangka panjang disebabkan fluktuasi harga batubara yang terjadi di pasar global maupun domestik. 

Adanya ketidakpastian seputar regulasi energi serta bayang-bayang aturan lingkungan hidup yang baru turut memperkuat sikap kewaspadaan di pasar. 

Beberapa pengamat memproyeksikan pergerakan pasar baru akan kembali bergairah ketika kebutuhan pasokan listrik meningkat menjelang datangnya musim dingin atau saat terjadi lonjakan masif pada aktivitas industri. 

Meski demikian, kondisi surplus pasokan serta sikap defensif dari para pembeli memiliki potensi menahan laju peningkatan harga dalam jangka pendek ini.

Ibtihal

Ibtihal

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga CPO Juni 2026 Diproyeksi Stabil Berkat Aturan Biofuel Global

Harga CPO Juni 2026 Diproyeksi Stabil Berkat Aturan Biofuel Global

Pemerintah Tahan Harga LPG 3 Kg dan BBM Subsidi Tetap Sampai 2026

Pemerintah Tahan Harga LPG 3 Kg dan BBM Subsidi Tetap Sampai 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Update Sumut: Harga TBS Sawit Turun dan CPO Dipatok Rp15.139/Kg

Update Sumut: Harga TBS Sawit Turun dan CPO Dipatok Rp15.139/Kg

Harga Batu Bara Newcastle dan Rotterdam Kompak Naik per 18 Mei 2026

Harga Batu Bara Newcastle dan Rotterdam Kompak Naik per 18 Mei 2026