Jumat, 27 Februari 2026

Harga Minyak Dunia Turun Tipis Dipengaruhi Negosiasi Nuklir AS Iran

Harga Minyak Dunia Turun Tipis Dipengaruhi Negosiasi Nuklir AS Iran
Harga Minyak Dunia Turun Tipis Dipengaruhi Negosiasi Nuklir AS Iran

JAKARTA - Pergerakan harga minyak global kembali menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap dinamika geopolitik. 

Ketika isu perundingan nuklir mencuat, pasar energi langsung bereaksi cepat, mencerminkan betapa besarnya pengaruh faktor politik terhadap komoditas strategis tersebut. Fluktuasi tajam dalam satu sesi perdagangan menjadi gambaran ketidakpastian yang masih menyelimuti pelaku pasar.

Fokus utama investor kini tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Setiap sinyal dari meja perundingan memicu perubahan sentimen yang berdampak langsung pada harga minyak mentah dunia.

Baca Juga

Kemenekraf Dorong UMKM Lhokseumawe Tembus Pasar Nasional Lewat Bazar Ramadan

Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Pelaku pasar mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir negara anggota OPEC tersebut.

Harga minyak mentah Brent ditutup turun 10 sen atau 0,14% ke level USD 70,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate terkoreksi 21 sen atau 0,32% menjadi USD 65,21 per barel.

Dinamika Negosiasi Di Jenewa

Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak sempat bergerak naik turun seiring munculnya berbagai laporan terkait jalannya negosiasi di Jenewa. Pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan jika ketegangan meningkat.

Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa untuk membahas sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Langkah ini dilakukan guna mencegah potensi konflik, setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut.

Ketidakpastian hasil perundingan membuat pelaku pasar bersikap hati-hati. Setiap kabar yang muncul dari sumber diplomatik langsung diterjemahkan menjadi aksi beli atau jual dalam hitungan menit.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar energi tidak hanya digerakkan oleh data produksi dan konsumsi, tetapi juga oleh risiko geopolitik yang sewaktu-waktu bisa memicu gangguan distribusi.

Harga Sempat Naik Tajam Lalu Berbalik Arah

Harga minyak sempat melonjak lebih dari USD 1 per barel setelah laporan media menyebut pembicaraan menemui jalan buntu. Kebuntuan terjadi akibat desakan Amerika Serikat agar Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, termasuk menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya hingga 60% kepada AS.

Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Harga kembali turun setelah kedua negara sepakat memperpanjang pembicaraan hingga pekan depan.

Menurut Janiv Shah, Wakil Presiden Analisis Minyak di Rystad Energy, keputusan memperpanjang negosiasi mengurangi kemungkinan terjadinya serangan dalam waktu dekat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menggambarkan pertemuan Kamis sebagai pembicaraan paling serius dengan Amerika Serikat sejauh ini. Ia menegaskan Iran telah menyampaikan secara jelas tuntutan pencabutan sanksi serta mekanisme pelaksanaannya. Araqchi juga memastikan negosiasi akan dilanjutkan pekan depan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, sebelumnya menyatakan bahwa kemajuan signifikan telah dicapai dalam pembicaraan tersebut.

Pasar Hapus Premi Risiko Geopolitik

Pelaku pasar menilai pelemahan harga minyak kali ini lebih dipicu oleh perubahan sentimen ketimbang faktor fundamental.

“Penurunan harga minyak ini pada dasarnya hanya karena pasar menghapus premi risiko geopolitik,” kata Shohruh Zukhritdinov, trader minyak yang berbasis di Dubai.

Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan sanksi yang lebih ketat atau gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. 

“Pelaku pasar sudah mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan sanksi yang lebih ketat atau gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. Namun secara fundamental tidak ada yang berubah — pasokan masih melimpah, OPEC+ berpotensi menambah produksi pada April, dan Iran mempercepat ekspor. Jadi pergerakan ini lebih didorong sentimen pasar, bukan perubahan struktur pasokan,” ujarnya.

Artinya, secara fundamental pasokan minyak global masih melimpah. Bahkan, OPEC+ berpotensi menambah produksi pada April, sementara Iran juga mempercepat ekspor. Karena itu, tekanan harga saat ini lebih didorong faktor psikologis pasar dibanding perubahan struktur pasokan global.

Ke depan, arah harga minyak masih akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Selama ketidakpastian tersebut belum sepenuhnya mereda, volatilitas diperkirakan tetap mewarnai perdagangan komoditas energi dunia.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BP Tapera Laporkan Penyaluran Rumah Subsidi Meningkat Signifikan Hingga Februari

BP Tapera Laporkan Penyaluran Rumah Subsidi Meningkat Signifikan Hingga Februari

Harga Pangan Nasional 27 Februari 2026 Naik Beragam Jelang Ramadan

Harga Pangan Nasional 27 Februari 2026 Naik Beragam Jelang Ramadan

Pertamina Siapkan Pasokan BBM Hingga Rest Area Demi Kelancaran Mudik

Pertamina Siapkan Pasokan BBM Hingga Rest Area Demi Kelancaran Mudik

Daftar Harga BBM Pertamina 27 Februari 2026 Terbaru Seluruh Indonesia

Daftar Harga BBM Pertamina 27 Februari 2026 Terbaru Seluruh Indonesia

Jadwal Pemadaman Listrik Sedayu Jogja Wates Kalasan Hari Ini

Jadwal Pemadaman Listrik Sedayu Jogja Wates Kalasan Hari Ini