Jumat, 27 Februari 2026

Danantara Dorong Penguatan Penerbangan Garuda di Rute Indonesia Singapura Lebih Seimbang

Danantara Dorong Penguatan Penerbangan Garuda di Rute Indonesia Singapura Lebih Seimbang

JAKARTA - Danantara menyoroti ketimpangan frekuensi penerbangan antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines pada rute Indonesia-Singapura yang dinilai belum seimbang meskipun kedua negara memiliki kesepakatan resiprokal dalam bisnis penerbangan.

Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara Rohan Hafas menjelaskan Indonesia memiliki kesepakatan resiprokal bisnis dengan berbagai negara dalam urusan penerbangan. Bila maskapai Indonesia ingin membuka penerbangan langsung ke suatu negara, maka sebagai timbal balik maskapai negara tersebut juga membuka penerbangan ke Indonesia.

Begitu juga dengan Singapura, karena Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung, Singapore Airlines pun mesti membuka penerbangan langsung ke Indonesia. Namun dalam praktiknya frekuensi penerbangan kedua maskapai tersebut menunjukkan perbedaan yang cukup besar.

Baca Juga

Jadwal Kapal Pelni Nabire Jayapura Maret 2026 Dilayani KM Dorolonda Gunung Dempo

Ketimpangan Frekuensi Penerbangan

Perbandingan frekuensi terbang antara Garuda Indonesia dengan Singapore Airlines untuk rute Indonesia dan Singapura dinilai cukup timpang. Garuda hanya membuka 1-2 kali penerbangan per hari, sementara Singapore Airlines bisa melakukan 6-8 penerbangan per hari.

"Kali ini Indonesia tertindas nih resiprokalnya, Singapore Airlines per hari dengan pesawat besar ya A330-300 rata-rata sih. Dia bisa ke sini 6-8 kali per hari, Garuda ke sana cuma 1-2 kali per hari," papar Rohan dalam diskusi di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, 26 Februari 2026.

Menurut Rohan, kondisi ini menunjukkan kesepakatan resiprokal yang berjalan belum memberikan keseimbangan bagi maskapai nasional. Ia menilai kondisi tersebut perlu diperbaiki agar peluang bisnis penerbangan internasional bagi maskapai Indonesia bisa meningkat.

Sumber Pendapatan Maskapai Asing

Rohan menilai Singapore Airlines berhasil memaksimalkan banyaknya frekuensi penerbangan itu sebagai sumber pendapatan. Sementara Garuda tidak dapat melakukan hal tersebut.

"Sekitar 65% pendapatan Singapore Airlines datang dari rute yang 6-8 kali dari Indonesia itu dibanding dia ke New York dan sebagainya. Karena ke sana beban bersaing sama Qatar Airways sama Emirates dan sebagainya tinggi, jadi untungnya terlalu tipis di long haul," jelas Rohan.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa rute regional seperti Indonesia-Singapura menjadi kontributor besar bagi maskapai asing karena tingkat persaingan di rute jarak jauh relatif lebih tinggi. Kondisi ini juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan maskapai asing dapat memperoleh keuntungan lebih besar dari pasar Indonesia.

Upaya Menyeimbangkan Kesepakatan Resiprokal

Rohan mengatakan Danantara bersama Garuda Indonesia akan berupaya menyesuaikan kesepakatan resiprokal penerbangan agar lebih seimbang dan tidak timpang.

"Itu yang harus diperbaiki, itu reciprocal agreementnya ada. Masing-masing airline itu pasti punya di seluruh dunia juga begitu. Jadi reciprocal-nya mau diseimbangkan," ungkap Rohan.

Penyesuaian tersebut diharapkan dapat memberikan peluang yang lebih besar bagi maskapai nasional untuk meningkatkan frekuensi penerbangan internasional serta memperkuat posisi di pasar global.

Langkah penyeimbangan kesepakatan resiprokal dinilai penting karena penerbangan internasional merupakan salah satu sumber pendapatan utama maskapai penerbangan. Dengan frekuensi penerbangan yang lebih banyak, maskapai berpeluang meningkatkan tingkat keterisian penumpang sekaligus memperluas jaringan rute.

Target Penambahan Rute Internasional

Selain rute Singapura, Danantara juga mengincar beberapa negara lain untuk ditingkatkan frekuensi penerbangannya. Negara-negara tersebut antara lain Australia, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, hingga Belanda.

Upaya peningkatan frekuensi penerbangan ke berbagai negara tersebut dilakukan untuk memperbesar porsi penerbangan internasional Garuda Indonesia. Dengan meningkatnya jumlah rute dan frekuensi penerbangan, maskapai nasional diharapkan dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar di tingkat global.

Danantara melihat peluang penguatan penerbangan internasional sebagai langkah strategis untuk memperbaiki kinerja maskapai nasional. Ketimpangan frekuensi penerbangan seperti yang terjadi pada rute Indonesia-Singapura dinilai menjadi salah satu tantangan yang perlu segera diatasi agar maskapai nasional dapat bersaing lebih optimal di pasar internasional.

Fery

Fery

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Perpanjangan IUPK Freeport hingga 2061 Dorong Investasi Tambang Besar

Perpanjangan IUPK Freeport hingga 2061 Dorong Investasi Tambang Besar

SIG Catat Nol Fatalitas Sepanjang 2025, Produktivitas Operasional Tetap Optimal

SIG Catat Nol Fatalitas Sepanjang 2025, Produktivitas Operasional Tetap Optimal

Kinerja ENRG 2025 Melesat, Laba Bersih Tembus Rp1,54 Triliun Berkat Kenaikan Penjualan

Kinerja ENRG 2025 Melesat, Laba Bersih Tembus Rp1,54 Triliun Berkat Kenaikan Penjualan

BSDE Bidik Pra-Penjualan Rp10 Triliun pada 2026, Segmen Residensial Jadi Andalan Utama

BSDE Bidik Pra-Penjualan Rp10 Triliun pada 2026, Segmen Residensial Jadi Andalan Utama

14 Kapal PELNI Siap Layani Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Makassar

14 Kapal PELNI Siap Layani Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Makassar