JAKARTA — Permintaan minyak bumi diperkirakan akan tetap tinggi hingga tahun 2050 meski dunia tengah bergeser menuju energi terbarukan. Proyeksi ini berdasarkan data global yang dikutip oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang menunjukkan bahwa penggunaan minyak akan terus memegang porsi signifikan dalam bauran energi dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Informasi ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, yang mengutip Outlook Energi dari ExxonMobil. Dalam paparan tersebut, kebutuhan minyak diprediksi tetap tinggi pada 2050, yang mencerminkan peran masih dominan dari bahan bakar fosil untuk menopang aktivitas ekonomi global.
Konteks Permintaan Energi Global
Baca JugaINACRAFT 2026 Tampilkan 11 Zona Tematik untuk Pengalaman Belanja yang Efisien
Permintaan energi di seluruh dunia masih didominasi oleh bahan bakar fosil, termasuk minyak bumi, meskipun ada tren pertumbuhan energi terbarukan. Energi bersih dan sumber energi baru terus bertambah, namun peralihan penuh dari minyak ke alternatif energi diperkirakan terjadi jauh lebih lambat daripada target beberapa negara maju. Hal ini karena minyak masih menjadi komponen penting dalam sektor transportasi, industri, dan sektor energi primer lainnya.
Data lain bahkan menunjukkan bahwa minyak bumi akan terus menjadi bagian utama dari energi primer sampai pertengahan abad ini, meskipun kontribusinya berangsur turun jika dibandingkan dengan era sebelumnya. Faktor geopolitik, infrastruktur energi global, dan kebutuhan konsumen menjadi determinan utama dalam proyeksi ini.
Kutipan Utama Dalam Proyeksi Energi
Laode Sulaeman menggarisbawahi bahwa menurut data ExxonMobil, konsentrasi minyak dalam bauran energi primer global tetap signifikan hingga 2050. Hal ini menggambarkan bahwa transisi energi tidak akan menghapus peran minyak dalam jangka panjang, bahkan di tengah dorongan kuat menuju energi bersih dan net zero emission.
Menurutnya, sampai pertengahan abad ini, minyak dan gas masih akan memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi dunia. Walau energi terbarukan semakin berkembang, pertumbuhan konsumsi minyak masih tetap kuat, terutama karena ketergantungan sektor industri dan transportasi terhadap bahan bakar fosil.
Dinamika Pasar dan Tantangan Investasi Migas
Proyeksi tinggi permintaan minyak dipengaruhi pula oleh dinamika investasi global di sektor minyak dan gas bumi (migas). Sektor ini perlu terus menarik investasi baru agar produksi migas dapat memenuhi kebutuhan global di tengah pertumbuhan ekonomi. Tanpa investasi baru, produksi migas berpotensi stagnan atau malah menurun, sementara permintaan terus naik.
Isu ini penting karena investasi di migas berkaitan erat dengan keputusan politik, kebijakan lingkungan, dan situasi ekonomi global. Banyak perusahaan energi besar menimbang ulang strategi produksi mereka untuk menyeimbangkan antara tuntutan pasar jangka pendek dan target keberlanjutan jangka panjang.
Pertumbuhan Permintaan vs. Target Energi Terbarukan
Walau banyak negara berkomitmen pada transisi energi, realitas konsumsi masih menunjukkan dominasi minyak dan gas di sektor energi primer dunia hingga 2050. Ini menunjukkan bahwa meskipun porsi energi terbarukan meningkat, penggantian total minyak bumi kemungkinan belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Organisasi energi internasional dan proyeksi industri umumnya memperkirakan peningkatan kapasitas energi terbarukan, namun penggunaan minyak tetap mendominasi sebagian besar sektor transportasi dan industri berat. Karena itulah prediksi permintaan tinggi minyak tetap relevan dengan proyeksi jangka panjang ini dan tidak bertentangan dengan upaya transisi energi — hanya menunjukkan realitas kompleks dari ketergantungan global terhadap minyak.
Kunci Pemahaman dan Implikasi Kebijakan
Apa artinya bagi Indonesia? Proyeksi ini membutuhkan kesiapan kebijakan dan strategi energi nasional yang adaptif. Indonesia harus mempertimbangkan bagaimana memenuhi permintaan domestik, sambil tetap mengejar target energi terbarukan dan net zero emission di masa depan.
Permintaan minyak bumi yang masih tinggi hingga 2050 menandakan bahwa pemerintah dan sektor swasta perlu merancang kebijakan yang menggabungkan pertumbuhan berkelanjutan, efisiensi energi, dan investasi di teknologi baru. Strategi yang tepat dapat membantu memaksimalkan manfaat energi fosil sekaligus mempercepat adopsi energi bersih.
Permintaan minyak bumi yang diprediksi tinggi hingga 2050 mencerminkan kompleksitas peralihan energi global, di mana kebutuhan ekonomi saat ini masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Meski ada tren diversifikasi energi, minyak masih akan menjadi pemain utama dalam jangka panjang, setidaknya hingga pertengahan abad ini, menurut data yang dikutip oleh ESDM dari Outlook Energi ExxonMobil.
Penting untuk memahami proyeksi ini bukan sebagai pembenaran atas penggunaan energi fosil tanpa batas, tetapi sebagai gambaran nyata bagaimana kebutuhan energi dunia bergerak seiring dengan transisi energi yang kompleks dan berkepanjangan.
Fery
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Ekspor Kendaraan Jadi Penopang Industri Otomotif Nasional di Tahun 2026
- Kamis, 05 Februari 2026
Mengulas Peran Vital Industri Otomotif Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
BPS: Indonesia Tumbuh 5,11 Persen di 2025, Optimis Jaga Pertumbuhan 2026
- Kamis, 05 Februari 2026
DPRD Jabar Berfokus pada Realisasi Program Listrik Desa untuk 100 Ribu Rumah Tangga
- Kamis, 05 Februari 2026
Prospek Kinerja Emiten Migas Meningkat Seiring Melonjaknya Harga Minyak
- Kamis, 05 Februari 2026













