Eskalasi Konflik AS dan Iran Buat Rupiah Melemah ke Rp17.609 per USD

Ilustrasi nilai tukar rupiah, (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Sabtu, 12 September 2026 | 01:25:39 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat pagi.

Mata uang Garuda terkoreksi 62 poin atau setara 0,35 persen ke level Rp17.609 per USD dari penutupan sebelumnya di Rp17.547 per USD pada pukul 09.43 WIB.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan pergerakan rupiah berada di level Rp17.531 per USD pada waktu yang sama.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif tetapi tetap ditutup melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.540 per USD hingga Rp17.590 per USD," jelas Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim mengungkapkan sentimen ketegangan AS dan Iran yang kembali memanas menjadi pemicu utama pergerakan rupiah.

Aksi saling serang antara kapal-kapal kedua negara di Selat Hormuz serta serangan kelompok Houthi ke infrastruktur energi Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan perang akan usai setelah pemilu sela November, laporan Wall Street Journal menyebutkan konflik berpotensi berlanjut hingga akhir masa jabatannya.

Di saat yang sama, para pelaku pasar sedang menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) serta Indeks Harga Konsumen (CPI) AS.

"Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan untuk meredam tekanan harga," ungkap Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan berada di kisaran 60 persen.

Selain faktor eksternal, lonjakan harga minyak dunia juga membayangi risiko fiskal perekonomian nasional.

"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor diantaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG)," jelas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Risiko defisit anggaran dapat membengkak jika penerimaan negara tidak mencukupi, ditambah tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak yang berpotensi menekan rupiah.

"Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat," papar Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah mengandalkan bantal fiskal dari lonjakan pendapatan ekspor komoditas untuk menjaga anggaran, meski kewaspadaan tetap menjadi fokus utama.

Namun, tekanan pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh data sentimen konsumen Agustus yang berada di level tertinggi dalam tiga bulan.

"Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat sehingga demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat penomena makan tabungan," tutur Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar