Reli 10 Pekan Terancam Usai Harga Tembaga Anjlok Lebih dari 4 Persen
JAKARTA – Rangkaian kenaikan harga tembaga selama 10 pekan berturut-turut berpotensi terhenti. Nilai komoditas ini mengalami penurunan tajam usai Amerika Serikat (AS) belum memberikan kepastian mengenai rencana penetapan tarif atas tembaga olahan.
Harga tembaga kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) melorot sekitar 1% pada pekan ini. Penurunan tersebut terjadi usai harganya menyentuh rekor US$ 14.875 per metrik ton pada Kamis (10/9), sebelum akhirnya merosot lebih dari 4%.
Pada Jumat (11/9) pukul 03.12 GMT, harga tembaga LME bergerak naik tipis 0,26% menuju US$ 14.271 per metrik ton. Meski begitu, penguatan singkat ini belum sanggup meredam gelombang tekanan jual akibat timbulnya keraguan atas arah kebijakan tarif AS.
Di bursa Shanghai Futures Exchange (SHFE), kontrak tembaga paling aktif justru merosot 2,82% ke level 108.580 yuan atau setara US$ 16.180,85 per ton. Dalam kurun mingguan, nilai tembaga di SHFE mencatatkan pelemahan sekitar 0,5%.
Tekanan terhadap harga semakin menguat usai Reuters mengabarkan pihak Gedung Putih belum menyepakati pengenaan tarif terhadap tembaga olahan.
Saat ini pemerintah AS tengah mengkaji dampak kenaikan harga logam pada biaya manufaktur domestik, sekaligus mengukur manfaat tarif dalam mendorong kapasitas produksi tambang dalam negeri.
Situasi ambigu ini membalikkan dugaan para pelaku pasar yang semula meyakini aturan tarif bakal diterapkan. "Pasar selama ini sebagian besar mengasumsikan tarif akan diberlakukan," kata analis komoditas ING dalam catatannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut pertimbangan ING, perkembangan informasi terkini telah menghapus sebagian premi tarif yang sebelumnya mengerek kenaikan harga tembaga.
Keberadaan premi ini sebelumnya amat terlihat di bursa COMEX AS. Selama beberapa bulan, komoditas tembaga di COMEX terus diperdagangkan pada angka yang lebih tinggi dibanding LME.
Dinamika tersebut memicu para pedagang memboyong tembaga dalam volume besar ke wilayah AS demi mengantisipasi diterapkannya aturan tarif.
Namun, begitu kepastian kebijakan tarif mulai diragukan, selisih harga antarbursa tersebut langsung menyempit. Alhasil, kegiatan pengiriman tembaga ke AS menjadi kurang menguntungkan dan berisiko mengubah arus perdagangan secara global.
Jumlah persediaan tembaga pada gudang COMEX tercatat menyentuh 767.664 short ton atau setara 696.413 ton sampai hari Kamis. Tingginya angka cadangan tersebut memperlihatkan betapa kencangnya alokasi tembaga ke AS selama masa antisipasi kebijakan.
Pergeseran alur distribusi perdagangan ini juga mulai mengurangi ketatnya kondisi pasar tembaga di London. Premi harga tembaga tunai terhadap kontrak tiga bulan LME menyusut hingga menyisakan US$ 5 per ton pada Kamis, dari yang sebelumnya mencapai US$ 41 per ton pada hari terdahulu.
ING berpandangan bahwa lonjakan harga tembaga mendekati US$ 15.000 per ton pada masa sebelumnya sudah melampaui kondisi fundamental pasar yang sebenarnya.
Apabila AS pada akhirnya membatalkan pengenaan tarif, ING memproyeksikan sebagian tembaga yang telah berada di AS bakal kembali mengalir ke pasar internasional. Skenario ini berpeluang memperbanyak ketersediaan pasokan dan memberi tekanan tambahan pada pergerakan harga.
Pergerakan harga tembaga turut memengaruhi deretan logam industri lainnya. Pada bursa LME, harga aluminium merangkak naik 0,29% dan seng menguat 0,26%. Sementara itu harga timbal bergerak stagnan, lalu nikel tergerus 0,25% dan timah melemah 0,73%.
Di bursa SHFE, harga aluminium tercatat turun 1,36%, seng merosot 3,31%, nikel berkurang 1,71%, serta timah terkoreksi 3,11%. Di sisi lain, harga timbal naik tipis 0,22%.