Pemerintah Siapkan Rp17 Triliun Insentif Beras Kuartal IV 2026

Ilustrasi stabilitas harga beras (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 10 September 2026 | 01:02:13 WIB

JAKARTA – Pemerintah mempersiapkan anggaran sebesar Rp17 triliun untuk insentif beras pada kuartal IV-2026. Program ini merupakan kelanjutan bantuan beras yang seharusnya berakhir pada September 2026.

“Nanti itu tentu teknisnya [penyerahan insentif] dari bulog. Bisa juga disekaliguskan. Anggarannya sekitar 17 triliun,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di Kompleks Kemenko Perekonomian, Selasa (8/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Airlangga Hartarto mengatakan bahwa jumlah insentif beras yang akan diberikan kepada penerima manfaat adalah sebesar 30 kg per kuartalnya.

Airlangga Hartarto menyebut bahwa insentif tersebut akan diberikan sekaligus sebanyak 30 kg di kuartal IV-2026, sesuai usulan Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Sebelumnya Airlangga Hartarto menyebut bahwa bantuan tersebut merupakan inisiatif pemerintah dalam upaya menghadapi El Niño.

“Yang kedua tadi kami bahas terkait dengan kesiapan untuk menghadapi El Niño dan antara lain juga terkait dengan program-program bantuan yang disiapkan untuk tahun ini,” kata Airlangga Hartarto di kompleks Istana Negara Senin (7/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Airlangga Hartarto mengatakan bahwa bantuan dalam menghadapi fenomena tersebut hingga akhir September ini antara lain bantuan beras sebanyak 30 kg.

“Arahan Bapak Presiden itu untuk dilanjutkan di bulan di bulan selanjutnya yaitu Oktober, November, dan Desember,” kata Airlangga Hartarto sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menilai dampak fenomena El Nino turut berdampak pada laju inflasi yang terjadi di Indonesia pada 2026. Hal ini terutama mempengaruhi harga komponen pangan yang bergejolak.

"Kami BPS mencatat adanya transmisi dinamika cuaca iklim Seperti El Nino melalui pergerakan harga pada komponen pangan yang bergejolak," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis resmi BPS, dikutip, Rabu (2/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Ateng Hartono, BPS mengamati dampak tersebut terutama pada komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang dinilai sensitif terhadap kondisi ketersediaan air serta pola tanam.

Berdasarkan pergerakan harga komoditas hortikultura pada Agustus 2026, Ateng Hartono mengatakan terdapat dinamika yang bervariasi. Sejumlah komoditas tercatat mengalami kenaikan harga dan memberikan andil terhadap inflasi, sementara komoditas lainnya justru mengalami penurunan harga dan menyumbang deflasi.

"Komoditas yang penyumbang inflasi kalau kami lihat secara bulanan ini ada cabai rawit ya ini andil terhadap inflasinya 0,2%. Ada kacang panjang, ada buncis, ada jagung manis, ada ketimun, ada semangka masing-masing komoditi yang saya sebutkan ini memberikan andil 0,01%," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, sejumlah komoditas hortikultura memberikan andil terhadap deflasi pada Agustus 2026. Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,06%, tomat 0,05%, bawang putih 0,02%, dan bayam 0,01%.

Reporter: Akbar