Semester Dua 2026, Industri Baja Nasional Hadapi Tantangan dan Peluang

ILUSTRASI, Tekanan produk baja impor dengan harga kompetitif masih membayangi pasar baja nasional. (Sumber Gambar : Net)
Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:33:30 WIB

JAKARTA – Proyeksi industri baja dalam negeri untuk paruh kedua tahun 2026 diperkirakan menunjukkan tanda-tanda perbaikan dibandingkan periode sebelumnya. Walaupun demikian, kebangkitan permintaan diprediksi berlangsung perlahan mengingat sektor manufaktur belum pulih sepenuhnya serta adanya gempuran produk impor yang terus menekan pasar domestik.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, menjelaskan bahwa peningkatan permintaan sangat bergantung pada percepatan kegiatan ekonomi, realisasi proyek konstruksi dan infrastruktur, serta geliat sektor manufaktur sebagai konsumen utama.

Namun, menurutnya, level permintaan saat ini masih tergolong lemah. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia per Juni 2026 yang masih berada dalam fase kontraksi, sehingga kebutuhan baja belum kembali normal.

"Di sisi lain, industri baja nasional juga menghadapi persaingan yang semakin ketat akibat meningkatnya tekanan produk baja impor dengan harga yang sangat kompetitif," ujar Harry sebagaimana dilansir dari berita sumber kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Oleh karenanya, IISIA memandang prospek industri baja di semester dua 2026 dengan sikap optimistis yang terukur. Harry menambahkan bahwa pemulihan sektor ini memerlukan sokongan kebijakan yang mampu memacu aktivitas pengguna baja serta menciptakan persaingan usaha yang lebih sehat.

Pasar dalam negeri tetap menjadi tumpuan utama industri baja nasional, dengan permintaan yang didorong oleh sektor konstruksi, otomotif, infrastruktur, manufaktur, hingga berbagai proyek investasi yang sedang berjalan. 

Meski memiliki potensi besar, produsen lokal belum sepenuhnya memanfaatkan peluang tersebut. Masifnya penetrasi barang impor menyebabkan tingkat utilisasi industri baja domestik masih berada di angka yang relatif rendah.

Karena itulah, IISIA terus mengupayakan peningkatan pemakaian produk baja nasional, khususnya untuk proyek-proyek pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), serta proyek investasi strategis.

Di sisi lain, peluang pasar luar negeri masih terbuka bagi produk baja tertentu yang berdaya saing di pasar regional maupun negara berkembang. 

Namun, prospek ekspor masih terhambat oleh lemahnya permintaan global, tingginya kapasitas berlebih (excess capacity), serta semakin banyaknya kebijakan perdagangan yang diterapkan di berbagai negara.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tingkat utilisasi industri baja nasional saat ini berada di kisaran 52%. Harry menegaskan bahwa fokus industri saat ini bukan pada penambahan kapasitas produksi, melainkan optimalisasi kapasitas yang sudah tersedia.

"Untuk itu diperlukan kepastian pasar, peningkatan penggunaan produk baja nasional, pengendalian terhadap praktik perdagangan yang tidak adil, serta dukungan terhadap daya saing biaya produksi industri dalam negeri sehingga tingkat utilisasi industri dapat terus meningkat," kata Harry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain kendala permintaan, industri baja masih tertekan oleh biaya produksi. Sektor yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan baku global, pergerakan nilai tukar rupiah, biaya logistik, hingga ketersediaan pasokan energi.

IISIA mengapresiasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dianggap membantu menjaga daya saing industri nasional. Namun, implementasinya masih terkendala keterbatasan volume dan alokasi pasokan gas. 

Akibatnya, saat pasokan HGBT tidak mencukupi, pelaku industri terpaksa menggunakan gas non-HGBT dengan harga lebih mahal, yang berujung pada meningkatnya biaya energi dan tertekannya margin perusahaan. 

Oleh sebab itu, IISIA berharap pemerintah memastikan penyaluran HGBT sesuai volume kontrak demi mengoptimalkan manfaat kebijakan tersebut.

Sementara itu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) juga memprediksi pasar baja di semester dua 2026 akan lebih baik dibanding semester pertama. Chief Strategy and Business Development Officer sekaligus Corporate Secretary & Investor Relations ISSP, Johanes W. Edward, menuturkan bahwa peningkatan aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, serta belanja manufaktur akan menjadi pendorong utama permintaan hingga akhir tahun.

"Kami melihat prospek industri baja pada semester dua 2026 cenderung lebih baik dibandingkan semester pertama, seiring berlanjutnya aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, serta peningkatan belanja sektor manufaktur," ujar Johanes sebagaimana dilansir dari berita sumber kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Walaupun begitu, Johanes mengingatkan adanya ketidakpastian global seperti dinamika perdagangan internasional, fluktuasi harga komoditas, pergerakan nilai tukar, serta kondisi geopolitik yang bisa memengaruhi sentimen pasar dan keputusan investasi. Menurutnya, pasar domestik tetap menjadi kontributor utama penjualan ISSP. 

Adapun permintaan ekspor masih menunjukkan tren positif meski pasar global belum sepenuhnya pulih. 

Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, ISSP mengoperasikan fasilitas produksinya dengan tingkat utilisasi sekitar 60%–70%. Kapasitas yang ada dinilai cukup untuk meningkatkan produksi secara bertahap tanpa investasi baru dalam waktu dekat.

Dari sisi biaya, Johanes menyebut perusahaan masih mampu mengendalikan tekanan biaya lewat pengelolaan persediaan, efisiensi operasional, dan optimalisasi bauran produk. "Dengan pendekatan tersebut, dampak fluktuasi biaya terhadap margin diharapkan tetap dapat dikelola secara terkendali, meskipun tekanan dari persaingan harga di pasar masih menjadi tantangan," tutup Johanes sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan