Breaking

Prediksi Status Bursa Indonesia di MSCI pada November 2026 Mendatang

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Sabtu, 04 Juli 2026
Prediksi Status Bursa Indonesia di MSCI pada November 2026 Mendatang
Ilustrasi: Bursa Indonesia berpotensi turun status ke Frontier Market pada November 2026 dengan peluang 27 persen. (Gambar: NET)

JAKARTA – Bursa Indonesia berpotensi mengalami penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market sebesar 27 persen pada November 2026 mendatang. Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong, menilai penilaian MSCI terhadap pasar saham Indonesia tergolong terlalu ketat.

Ia menyoroti proses transformasi pasar yang diinisiasi oleh self-regulatory organization (SRO) Tanah Air dengan syarat free float emiten minimal 15 persen yang dinilai sangat tinggi. “Free float SpaceX punya Elon Musk itu hanya 3%. Ini berarti mereka tentu tak bisa listing di Indonesia,” ujar Shim, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pada review Mei lalu, terdapat enam saham Indonesia yang dikeluarkan dari Global Standard Index MSCI, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Sebanyak 13 saham lainnya juga didepak dari daftar small-cap MSCI.

Status pembekuan (freeze) untuk kenaikan peringkat masih berlaku sejak Januari 2026 dan tidak mengalami perubahan dalam review terbaru. Tinjauan Aksesibilitas Pasar Global MSCI pada 23 Juni 2026 pun tidak mengubah status tersebut.

“Jadi, ini bukanlah hal yang baik. Sebenarnya, mereka hanya terus menunda-nunda keputusan dan diberi harapan palsu,” tutur Shim, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Shim menyampaikan bahwa situs vending Polymarket memprediksi peluang sebesar 27 persen Bursa Indonesia akan turun status ke Frontier Market. Namun, ia pribadi memprediksi probabilitas tersebut berada di bawah 10 persen karena isu MSCI sudah diketahui sejak awal tahun 2026.

Isu MSCI tidak akan menjadi faktor pendorong utama pergerakan harga saham kecuali status pembekuannya dicabut. “BBCA, MORA, emiten telekomunikasi, semua terdampak. Jadi, isu MSCI ini tidak akan menjadi faktor pendorong utama pergerakan harga saham, kecuali jika status pembekuannya dicabut, yang mana itu akan menjadi hal positif,” ungkap Shim, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pasar saham Indonesia dinilai mulai menawarkan titik masuk yang menarik setelah mengalami koreksi tajam. IHSG tercatat turun dari 8.647 menjadi 5.643 atau melemah 35% YTD, dengan valuasi sekitar 14,6 kali yang mendekati level krisis.

“Namun, kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan membuat katalis pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat,” kata Shim, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pada perdagangan Jumat (3/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 5.875. Secara akumulatif, IHSG telah melemah 32,05% year to date (YTD) sejak awal tahun.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua