Breaking

Harga CPO Turun 3 Hari Berturut-turut Tertekan Minyak Kedelai

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 10 September 2026
Harga CPO Turun 3 Hari Berturut-turut Tertekan Minyak Kedelai
Ilustrasi minyak sawit mentah (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) turun lebih dari 1 persen pada Kamis (10/9/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut. Sentimen pasar tertekan oleh penurunan harga minyak kedelai serta ekspektasi terhadap data permintaan dan pasokan yang bearish.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,63 persen menjadi 4.885 ringgit Malaysia per ton pada pukul 15.29 WIB.

Trader proprietary dari perusahaan perdagangan berbasis Kuala Lumpur Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, mengatakan, "pelemahan harga terutama dipicu oleh turunnya harga minyak kedelai dan ekspektasi terhadap laporan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang secara keseluruhan diperkirakan bearish" sebagaimana dilansir dari berita sumber.

MPOB dijadwalkan merilis data permintaan dan pasokan CPO Malaysia untuk Agustus pada Kamis. Sementara itu, sejumlah surveyor kargo juga dijadwalkan merilis estimasi ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 September.

Di sisi lain, harga minyak mentah masih bertahan setelah minyak Brent menembus USD100 per barel. Pelaku pasar bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih besar setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terbesar terhadap pelayaran sejak konflik kedua negara berlangsung selama enam bulan.

Kenaikan harga minyak mentah berjangka membuat CPO menjadi opsi yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Di Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 0,95 persen, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 1,43 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,5 persen.

Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa di pasar minyak nabati global.

Dari pasar valuta, ringgit Malaysia yang menjadi mata uang perdagangan CPO menguat 0,22 persen terhadap dolar AS. Kondisi tersebut membuat komoditas ini sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Di sisi lain, Indonesia berupaya meningkatkan pengaruhnya terhadap pembentukan harga komoditas unggulan pada tahap awal pengoperasian bursa komoditas baru yang tengah direncanakan. Kepala regulator baru Indonesia mengatakan pihaknya menargetkan posisi sebagai pembentuk harga komoditas global atau global price maker.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua