Breaking

Mendag Sebut Harga Pangan Stabil di Wilayah Terdampak Erupsi

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 10 September 2026
Mendag Sebut Harga Pangan Stabil di Wilayah Terdampak Erupsi
Menteri Perdagangan Budi Santoso (FOTO : NET)

JAKARTA – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengklaim harga pangan stabil di sejumlah pasar yang wilayahnya terdampak paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Kepastian tersebut didasarkan pada pantauannya melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan serta hasil koordinasi langsung dengan berbagai pihak terkait.

"Dari pantuan kami sementara tidak ada masalah. Mudah-mudahan tidak ada masalah," ujar Budi ketika ditemui di kantor Kementerian Perdaganan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Budi menjelaskan SP2KP mampu melacak pergerakan harga pangan di seluruh kabupaten dan kota Indonesia, termasuk kawasan yang saat ini terpapar abu vulkanik. Berdasarkan data sistem tersebut, harga-harga di lapangan masih terpantau aman.

"Kami bisa pantau dari SP2KP karena SP2KP di semua kabupaten kota, yang terkena dampak pun kita lihat sebenarnya harganya stabil," ujar Budi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam kesempatan ini, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu turut menyoroti cara publik merespons dinamika harga di pasaran. Menurut dia, indikator kenaikan harga bahan pokok seharusnya merujuk pada harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebagai contoh, Budi menyebut harga acuan telur ayam saat ini dipatok sebesar Rp30 ribu per kilogram (kg). Angka tersebut ditetapkan pemerintah bersama asosiasi terkait setelah menghitung sejumlah komponen, di antaranya akumulasi biaya produksi, biaya administrasi, serta harga wajarnya.

Meski tren harga telur ayam di pasaran belakangan ini naik dari Rp22 ribu menjadi Rp26.600 per kg, angka tersebut sejatinya masih di bawah batas acuan pemerintah.

"Jadi makanya kalau kita lihat naiknya mestinya dari naik harga acuan," ujar Budi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan intervensi pemerintah di pasar tidak hanya dilakukan saat harga pangan naik, tetapi juga saat harganya turun di bawah acuan.

Ia mencontohkan harga daging ayam yang sempat merosot tajam dari harga acuan Rp40 ribu per kg menjadi Rp34 ribu per kg. Kondisi tersebut memicu protes dari para peternak lantaran pemasukan mereka tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi, terutama dari harga pakan.

Jika dibiarkan, peternak berisiko menghentikan produksi hingga gulung tikar. Hal ini justru akan memicu kelangkaan stok ayam di pasaran yang berujung pada kenaikan harga di kemudian hari.

"Pemerintah itu mengintervensi tidak hanya harga yang naik saja, tapi harga yang turun. Harga yang turun itu jangan sampai membuat si produsen gulung tikar. Jadi, untuk mencapai harga seimbang sesuai harga acuan," ujar Budi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua