BI Kunci Suku Bunga di 5,75%, Rupiah di Rp 17.770 — Siap-Siap Cicilan Masih Mahal
TEROPONGBISNIS.ID — Rupiah yang terus tertekan dan harga-harga kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik memaksa Bank Indonesia (BI) untuk bertahan dengan sikap yang ketat. Bank sentral memutuskan untuk mengunci suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen, sebuah sinyal tegas bahwa era bunga murah telah berlalu untuk sementara waktu.
Keputusan ini diambil di tengah badai ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian domestik. Efeknya, masyarakat yang tengah mencicil rumah, kendaraan, atau memiliki pinjaman usaha harus merogoh kocek lebih dalam karena beban bunga kredit dipastikan tetap berat.
Apa Arti Suku Bunga Tinggi untuk Dompet Anda?
Ketika BI menaikkan atau menahan suku bunga di level tinggi, efeknya langsung terasa ke sektor perbankan. Bunga pinjaman untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), hingga pinjaman modal kerja untuk usaha ikut terkerek naik.
Hal ini membuat biaya meminjam uang menjadi lebih mahal. Di sisi lain, imbal hasil bunga tabungan dan deposito justru menjadi lebih menarik, sehingga masyarakat didorong untuk lebih banyak menabung ketimbang membelanjakan uangnya.
Beban bunga yang membengkak ini juga berpotensi meningkatkan risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL). Jika hal itu terjadi, bank akan semakin selektif dalam menyalurkan kredit baru, sehingga roda usaha kecil dan menengah ikut terhambat.
Faktor Global dan Domestik yang Menekan Rupiah
Kebijakan suku bunga tinggi ini merupakan buah dari kombinasi tekanan eksternal dan internal. Secara global, aliran modal asing cenderung keluar dari negara berkembang seperti Indonesia saat ketidakpastian ekonomi dunia meninggi. Salah satu cara untuk menahannya adalah dengan menawarkan imbal hasil investasi berbasis rupiah yang lebih tinggi.
Secara domestik, tekanan inflasi mulai terlihat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 2,31 persen. Faktor pemicunya antara lain fenomena El Nino yang mengganggu pasokan pangan, serta inflasi barang impor akibat pelemahan nilai tukar.
Pelemahan rupiah sendiri masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 17.770 per dolar AS tercatat melemah 6,25 persen secara tahun berjalan, dan jauh meleset dari target asumsi pemerintah di APBN yang berada di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.900.
Arah Kebijakan Baru di Tengah Ketidakpastian
Gubernur BI yang baru dilantik, Destry Damayanti, menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Ia menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Visi yang diusungnya, "3I+S" (impactful, inclusive, integrative), mengisyaratkan bahwa bank sentral akan meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah agar kebijakan pengetatan ini tidak hanya menahan inflasi, tapi juga tetap memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
Bagi masyarakat, kondisi ini berarti dibutuhkan pengelolaan keuangan yang lebih cermat. Menunda pembelian barang dengan skema kredit berbunga tinggi atau mempercepat pelunasan utang menjadi langkah yang bijak sebelum sinyal penurunan suku bunga benar-benar terlihat.