Breaking

BPH Migas Sebut Disparitas Harga Pacu Konsumsi BBM Subsidi Naik

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 27 Agustus 2026
BPH Migas Sebut Disparitas Harga Pacu Konsumsi BBM Subsidi Naik
Ilustrasi bbm subsidi (FOTO : NET)

JAKARTA – Konsumsi Pertalite dan solar bersubsidi meningkat stabil pada periode April hingga Agustus 2026 akibat makin lebarnya selisih harga dengan BBM nonsubsidi. BPH Migas mencatat lonjakan paling tinggi terjadi pada solar sebesar 15,10 persen dan Pertalite sebesar 12,92 persen.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menjelaskan situasi tersebut saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

"Konsumsinya cukup melebihi hampir seluruh provinsi di wilayah kepulauan, baik itu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, maupun di Papua dan Maluku. Itu semua mengalami kenaikan," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelum terjadi penyesuaian, perbedaan harga Pertamax dan Pertalite hanya berada di angka Rp2.300 per liter. Pada 10 Juni 2026, harga Pertamax melesat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter yang membuat jarak harganya membengkak menjadi Rp6.250 per liter.

Harga Pertamax sempat diturunkan menjadi Rp15.950 per liter pada 1 Agustus 2026. Meski begitu, selisih harganya dengan Pertalite masih tergolong lebar yaitu Rp5.950 per liter.

Menurut Wahyudi, ketimpangan harga tersebut menjadi alasan utama perpindahan konsumsi masyarakat ke BBM subsidi.

"Yang pertama adalah disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi yang masih lebar, sehingga masyarakat melakukan pergeseran penggunaan ke BBM subsidi dan kompensasi negara," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelum kenaikan harga Pertamax, rata-rata distribusi Pertalite berada di angka 75.795 kiloliter per hari. Angka ini melonjak 9,19 persen menjadi 82.760 kiloliter per hari pada 10 Juni.

Tren kenaikan berlanjut hingga mencapai 85.589 kiloliter per hari pada 1 Juli atau naik 12,92 persen dibanding baseline awal. Ketika harga Pertamax diturunkan pada 1 Agustus, penyaluran Pertalite sedikit mereda ke angka 84.368 kiloliter per hari dengan persentase kenaikan 11,31 persen dari posisi awal.

Kondisi serupa dialami solar bersubsidi seiring dengan pergerakan harga Dexlite dan Pertamina Dex. Pada awalnya, rata-rata penyaluran solar hanya berada di angka 50.624 kiloliter per hari.

Volume penyaluran tersebut merangkak naik ke 52.685 kiloliter per hari pada 4 Mei, lalu menjadi 56.521 kiloliter pada 1 Juni, 57.963 kiloliter pada 1 Juli, dan menembus 58.271 kiloliter pada 1 Agustus. Total peningkatan tercatat sebesar 7.647 kiloliter per hari atau setara 15,10 persen.

Perbedaan harga pada varian diesel tercatat jauh lebih renggang. Dexlite dijual seharga Rp19.700 per liter dan Pertamina Dex Rp21.150 per liter, sedangkan Biosolar bersubsidi dipatok Rp6.800 per liter.

Di samping ketimpangan harga, Wahyudi menambahkan bahwa menggeliatnya sektor transportasi barang turut memicu peningkatan konsumsi.

"Ini penting untuk dicermati karena di triwulan dua ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor, untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Beberapa daerah yang mencatatkan lonjakan permintaan tinggi antara lain Surabaya dan sekitarnya, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, hingga Makassar.

Peningkatan sektor-sektor produktif juga mendorong permintaan energi. Sepanjang tahun berjalan, sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen, akomodasi serta makan-minum naik 10,60 persen, dan sektor pertanian tumbuh 3,8 persen. Wahyudi juga menyambungkannya dengan agenda pemerintah seperti koperasi nelayan merah putih, brigade pangan, serta food estate.

Akumulasi lonjakan ini mengakibatkan konsumsi solar bersubsidi menembus batas wajar. Sampai tanggal 20 Agustus 2026, angka penyerapan sudah menyentuh 12.444.517 kiloliter, padahal acuan penyaluran normal dari BPH Migas ditetapkan sebesar 63,9 persen dari total kuota.

"Seluruh provinsi memang posisinya melebihi dari alokasi yang ditetapkan," kata Wahyudi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi yang lebih terkendali terlihat pada penyaluran Pertalite dan minyak tanah. Realisasi Pertalite berada di angka 18.225.946 kiloliter atau 62,3 persen dari estimasi prognosa 29,27 juta kiloliter, sementara minyak tanah terealisasi 328.683 kiloliter atau 62,5 persen dari batas prognosa 0,53 juta kiloliter.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua